JAKARTA, HOLOPIS.COM – Forum Sipil Bersuara (FORSIBER) menduga peristiwa penguntitan terhadap mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, pada 19 Mei 2024 menjadi salah satu pemicu dibangunnya brankas di rumah kawasan Sentul yang belakangan menjadi lokasi penyitaan aset oleh penyidik.
Ketua FORSIBER, Hamdi Putra, mengatakan dugaan tersebut muncul setelah mencermati rangkaian peristiwa yang terjadi sejak penguntitan di Restoran Gontran Cherrier hingga ditemukannya uang dan emas dalam penggeledahan yang dilakukan penyidik.
“Peristiwa penguntitan terhadap Febrie Adriansyah di restoran Gontran Cherrier, Cipete, pada 19 Mei 2024 diduga memicu pembangunan brankas di rumah Sentul sebagai tempat penyimpanan yang lebih tertutup,” kata Hamdi Putra dalam keterangan tertulisnya, Minggu (19/7/2026).
Hamdi menjelaskan dugaan itu menguat karena pembangunan brankas di Sentul disebut terjadi pada tahun yang sama. Ia juga mengutip pernyataan kuasa hukum Don Ritto yang menyebut brankas di Sentul dikerjakan oleh kontraktor yang sama dengan pembuat brankas di De’Clan Signature.
“Urutan waktunya terlalu penting untuk diabaikan. Febrie dibuntuti di Gontran Cherrier pada Mei 2024. Kemudian, restoran tersebut berubah menjadi De’Clan Signature. Pada tahun itu pula, Don disebut meminta izin membangun brankas di rumah Sentul,” ujarnya.
Menurut Hamdi, dua tahun setelah rangkaian peristiwa tersebut, penyidik menemukan sekitar Rp60 miliar dalam bentuk valuta asing di De’Clan Signature. Sementara di rumah Sentul ditemukan emas seberat 74 kilogram dan uang tunai bernilai ratusan miliar rupiah.
Ia menilai kronologi tersebut membentuk dugaan investigatif bahwa penguntitan di Cipete meningkatkan risiko penyimpanan aset di lokasi tersebut sehingga diduga muncul kebutuhan membangun lokasi penyimpanan baru yang lebih tertutup.
“Rangkaian tersebut membentuk dugaan investigatif bahwa penguntitan telah meningkatkan risiko penyimpanan di Cipete. Pihak terkait kemudian diduga membutuhkan lokasi alternatif yang lebih privat, sehingga brankas baru dibangun di rumah Sentul,” katanya.
Meski demikian, Hamdi menegaskan dugaan tersebut belum membuktikan bahwa aset yang ditemukan di Sentul sebelumnya disimpan di restoran De’Clan Signature.
Karena itu, ia meminta penyidik menguji hubungan antara peristiwa penguntitan dengan pembangunan brankas melalui pembuktian administrasi maupun forensik.
Menurutnya, tanggal pemesanan dan pembangunan brankas menjadi salah satu bukti penting.
“Jika brankas Sentul dipesan setelah 19 Mei 2024, dugaan bahwa penguntitan menjadi pemicunya semakin kuat. Jika pembangunan telah direncanakan sebelumnya, hubungan sebab-akibat akan melemah,” ucapnya.
Hamdi juga meminta penyidik memeriksa kontraktor yang membangun kedua brankas tersebut, termasuk menyita dokumen pemesanan, invoice, bukti pembayaran, rancangan pembangunan, percakapan pemesanan, identitas pihak yang memberikan instruksi, hingga daftar pemegang kode akses.


