HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemotor nekat melintas trotoar di Depok mengaku anggota TNI, viral dan berujung klarifikasi serta diminta ditindak tegas oleh Kapuspen TNI.
Aksi seorang pengendara sepeda motor yang nekat melintas di trotoar Jalan Kartini, Kota Depok, Jawa Barat, viral di media sosial setelah berujung adu argumen dengan seorang pejalan kaki bernama Novi.
Peristiwa yang terekam kamera warga itu menyedot perhatian publik karena pengendara sempat mengaku sebagai anggota TNI saat ditegur, sebelum akhirnya diketahui hanya seorang pekerja marketing.
Video tersebut pertama kali diunggah oleh warganet pada Jumat (3/7/2026) dan dengan cepat menyebar luas di berbagai platform media sosial.
Dalam rekaman itu, tampak seorang pengendara motor melaju di atas trotoar yang seharusnya hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki.
Keberadaan motor di jalur tersebut membuat Novi, yang saat itu sedang berjalan dari arah Stasiun Depok menuju Jalan Pemuda, langsung menghentikan laju kendaraan tersebut.
“Motor itu melaju dan berhenti tepat di depan saya, lalu saya hadang dan tegur,” kata Novi saat dikonfirmasi, Minggu (5/7/2026).
Menurut Novi, tindakan tersebut dilakukannya karena trotoar merupakan ruang publik yang secara hukum dilindungi untuk keselamatan pejalan kaki.
Ia menilai penggunaan trotoar oleh kendaraan bermotor tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga berpotensi membahayakan pengguna jalan lain yang seharusnya mendapatkan hak prioritas di jalur tersebut.
Secara regulasi, hak pejalan kaki telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ).
Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa pejalan kaki berhak mendapatkan fasilitas yang aman dan wajib menggunakan trotoar atau bagian paling tepi jalan yang telah disediakan.
Namun, dalam praktiknya, pelanggaran terhadap ketentuan ini masih sering terjadi di berbagai daerah.
Dalam video yang viral tersebut, situasi sempat memanas ketika pengendara motor berdalih bahwa dirinya mengikuti kendaraan lain yang juga melintas di trotoar.
Namun, pernyataan itu kemudian berkembang menjadi klaim bahwa dirinya merupakan anggota TNI.
“Saya ini anggota,” ujar pengendara tersebut dalam video.
Pernyataan itu langsung mendapat respons tegas dari Novi yang tetap meminta agar pengendara tidak menggunakan trotoar untuk kendaraan bermotor.
Novi bahkan menegaskan bahwa status atau jabatan tidak dapat dijadikan alasan untuk melanggar aturan.
“Saya tidak peduli (Anda) anggota atau bukan. Saya mau ke gereja. Jangan bikin saya emosi,” jawab Novi dengan tegas dalam rekaman tersebut.
Ketegangan kembali terjadi ketika pengendara tersebut mengulangi klaimnya. “Saya ini tentara, Mbak,” ucapnya.
Namun Novi tetap bersikeras bahwa pelanggaran tidak dapat dibenarkan.
“Saya tidak peduli dengan jabatan Bapak,” balasnya sebelum akhirnya memilih meninggalkan lokasi untuk menghindari konflik berkepanjangan.
Video tersebut kemudian viral dan telah ditonton ratusan ribu kali, memicu gelombang komentar dari warganet.
Banyak yang mengecam tindakan pengendara motor tersebut karena dianggap arogan dan tidak menghormati hak pejalan kaki.
Di sisi lain, keberanian Novi dalam menegur pelanggaran juga mendapat banyak pujian karena dinilai mewakili suara masyarakat yang selama ini sering dirugikan oleh pelanggaran di jalan raya.
Tak lama setelah video itu viral, identitas pengendara akhirnya terungkap.
Ia diketahui bernama Syaiful Anwar dan bukan merupakan anggota TNI seperti yang sempat ia klaim.
Dalam video klarifikasi yang kemudian beredar, Syaiful mengakui kesalahannya dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
“Saya Syaiful Anwar, pekerja marketing,” katanya dalam video tersebut.
Ia juga mengakui bahwa tindakannya melanggar aturan dan meminta maaf kepada institusi TNI serta masyarakat luas karena telah mencatut nama institusi tersebut.
“Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada institusi TNI dan seluruh anggota TNI di seluruh Indonesia karena telah mencemarkan nama baik institusi TNI,” ujarnya.
Menanggapi kejadian ini, pihak TNI melalui Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) yang diwakili Muhammad Nas memberikan respons tegas.
Ia meminta agar pelanggaran tersebut diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku, terutama terkait penggunaan nama institusi negara secara tidak sah.
“Kami harapkan penegak hukum menegakkan aturan dan sanksi bagi pelanggar,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa TNI tidak mentolerir penggunaan nama institusi untuk kepentingan pribadi, terlebih jika digunakan untuk menghindari teguran atas pelanggaran hukum.
Sementara itu, aksi Novi yang berani menegur langsung pelanggaran di ruang publik mendapat apresiasi luas dari masyarakat.
Banyak warganet menilai sikapnya mencerminkan kesadaran hukum yang penting untuk ditumbuhkan di tengah masyarakat, terutama terkait disiplin berlalu lintas dan penghormatan terhadap hak pejalan kaki.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa pelanggaran kecil di jalan, seperti penggunaan trotoar oleh kendaraan bermotor, dapat berdampak besar dan memicu konflik di ruang publik.
Kesadaran untuk tertib berlalu lintas dinilai menjadi kunci agar kejadian serupa tidak terus berulang di kemudian hari.


