HOLOPIS.COM, JAKARTA – Jakarta Barat ramai dijuluki “Gotham City” setelah rentetan begal, curanmor, dan aksi kekerasan membuat warga was-was pulang malam.
Julukan “Gotham City” belakangan melekat pada Jakarta Barat.
Sebutan yang awalnya ramai di media sosial itu kini menjadi simbol keresahan sebagian warga terhadap maraknya aksi kriminalitas jalanan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Istilah tersebut merujuk pada kota fiktif dalam kisah Batman yang dikenal sebagai wilayah dengan tingkat kejahatan tinggi.
Di Jakarta Barat, julukan itu muncul setelah rentetan kasus begal, pencurian kendaraan bermotor, jambret hingga pembacokan terjadi dalam waktu yang berdekatan dan viral di berbagai platform media sosial.
Bagi sebagian warga, sebutan “Gotham City” bukan lagi sekadar candaan internet.
Julukan itu muncul dari rasa khawatir yang mulai dirasakan masyarakat ketika harus beraktivitas atau pulang ke rumah pada malam hari.
Sejumlah warga mengaku kini lebih waspada saat melintasi jalanan Jakarta Barat, terutama pada jam-jam rawan menjelang tengah malam hingga dini hari.
Fajar (26), seorang pekerja yang tinggal di kawasan Cengkareng, mengatakan kondisi yang terjadi belakangan membuatnya tidak lagi merasa nyaman saat berkendara sendirian pada malam hari.
Menurutnya, berbagai video dan laporan kejahatan yang beredar di media sosial membuat rasa aman masyarakat perlahan berkurang.
Ia mengaku kini selalu meningkatkan kewaspadaan ketika pulang kerja, terutama saat harus melintasi sejumlah ruas jalan yang pernah menjadi lokasi aksi pembegalan.
“Kalau sekarang lewat malam jadi lebih hati-hati. Kadang muncul rasa takut juga karena banyak kejadian yang viral. Kita tidak tahu siapa yang ada di jalan dan apa yang akan terjadi,” ujarnya.
Fajar menilai situasi tersebut membuat sebagian warga mulai menganggap Jakarta Barat mirip dengan Gotham City, kota yang identik dengan kriminalitas dalam cerita Batman.
Menurut dia, kekhawatiran masyarakat semakin besar karena beberapa kasus kejahatan terjadi di lokasi yang selama ini dikenal ramai dan sering dilalui warga.
Tidak hanya pada malam hari, sejumlah aksi kriminal bahkan terjadi saat aktivitas masyarakat masih berlangsung pada siang hari.
Kondisi itu membuat sebagian warga merasa pelaku kejahatan kini semakin berani dalam menjalankan aksinya.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah kasus kriminalitas memang menjadi perhatian publik.
Salah satu yang menyita perhatian adalah aksi pencurian kendaraan bermotor yang melibatkan pelaku bersenjata api di kawasan Duri Raya, Kebon Jeruk.
Dalam peristiwa tersebut, pelaku disebut sempat mengeluarkan senjata api dan melepaskan tembakan ketika aksinya diketahui korban.
Tak lama berselang, kasus serupa kembali terjadi di wilayah Palmerah. Pelaku pencurian motor disebut menodongkan senjata api kepada warga yang berusaha menggagalkan aksinya sebelum akhirnya melarikan diri membawa kendaraan hasil curian.
Selain kasus pencurian kendaraan bermotor, aksi begal bersenjata tajam juga menjadi perhatian masyarakat.
Salah satu peristiwa yang sempat viral terjadi di kawasan Jalan Arjuna Utara, Palmerah.
Korban yang tengah berada di pinggir jalan didatangi sejumlah pelaku bersenjata tajam.
Korban kemudian didorong hingga terjatuh ke saluran air sebelum sepeda motornya dibawa kabur.
Video rekaman CCTV yang memperlihatkan aksi tersebut beredar luas di media sosial dan memicu berbagai reaksi dari masyarakat.
Tidak sedikit warganet yang menyebut kondisi Jakarta Barat semakin mengkhawatirkan.
Kasus lain yang juga menjadi sorotan adalah aksi jambret di kawasan Mangga Besar, Tamansari.
Dalam kejadian itu, pelaku yang berjumlah beberapa orang disebut menggunakan senjata tajam untuk mengintimidasi korban sebelum melarikan diri.
Rentetan peristiwa tersebut membuat keresahan warga semakin meningkat.
Banyak masyarakat mulai mengubah kebiasaan mereka ketika bepergian pada malam hari.
Sebagian memilih pulang lebih awal, sementara yang lain memilih menggunakan rute berbeda meski harus menempuh jarak yang lebih jauh.
Ada pula warga yang sengaja berkendara secara berkelompok demi mengurangi risiko menjadi korban tindak kejahatan.
Kekhawatiran serupa dirasakan Saddam, warga Cengkareng yang setiap hari bekerja di kawasan Jakarta Pusat.
Ia mengaku kini sering merasa waswas ketika berkendara seorang diri pada malam hari.
Menurutnya, banyaknya pemberitaan kriminalitas membuat masyarakat menjadi lebih sensitif terhadap situasi di jalan.
“Sekarang kalau ada motor mengikuti dari belakang, kadang langsung curiga. Jadi lebih waspada dari biasanya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti keberanian para pelaku kejahatan yang tidak lagi hanya beraksi di lokasi sepi.
Beberapa kasus bahkan terjadi pada siang hari di tengah aktivitas masyarakat yang masih cukup ramai.
Fenomena tersebut membuat sebagian warga merasa bahwa tingkat risiko kejahatan tidak lagi terbatas pada jam tertentu.
Selain itu, minimnya penerangan jalan, kurangnya pengawasan, hingga kondisi lingkungan tertentu juga dapat membuka peluang terjadinya tindak kejahatan.
Josias menilai pemerintah dan aparat perlu melakukan pemetaan titik rawan secara berkala agar upaya pencegahan dapat dilakukan lebih efektif.
Menurutnya, informasi mengenai lokasi rawan kejahatan juga perlu diketahui masyarakat agar mereka dapat mengambil langkah antisipasi saat beraktivitas.
Ia juga mengingatkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan melalui berbagai kegiatan seperti ronda malam dan sistem keamanan lingkungan.
“Keamanan tidak hanya menjadi tanggung jawab polisi. Perlu ada kerja sama semua pihak agar lingkungan tetap aman,” ujarnya.
Meski julukan Gotham City kini telanjur populer di media sosial, sejumlah pihak berharap stigma tersebut tidak terus melekat pada Jakarta Barat.
Pemerintah daerah dan aparat keamanan menegaskan berbagai langkah pengamanan terus dilakukan untuk memastikan masyarakat dapat beraktivitas dengan aman.
Belum lama ini, Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah juga menegaskan bahwa kondisi keamanan di wilayahnya masih terkendali.
Ia mengatakan data kepolisian menunjukkan tingkat kriminalitas di Jakarta Barat tidak lebih tinggi dibandingkan wilayah lain di Jakarta.
Pemerintah Kota Jakarta Barat juga berencana memperkuat pengawasan melalui optimalisasi Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) serta penambahan kamera CCTV di sejumlah titik strategis.
Langkah tersebut diharapkan mampu mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan sekaligus meningkatkan rasa aman masyarakat.
Meski demikian, bagi sebagian warga, berbagai kasus yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir masih menyisakan kekhawatiran.
Mereka berharap upaya penegakan hukum dan pencegahan kejahatan dapat dilakukan secara konsisten sehingga aktivitas sehari-hari tidak lagi dibayangi rasa takut.
Sebab bagi warga, ukuran keberhasilan bukan hanya banyaknya pelaku yang ditangkap, melainkan kembalinya rasa aman ketika melintas di jalanan Jakarta Barat, baik siang maupun malam hari.
Hingga saat ini, julukan Gotham City masih terus diperbincangkan di media sosial.
Namun yang paling penting bagi masyarakat adalah bagaimana seluruh pihak dapat bekerja sama untuk memastikan Jakarta Barat kembali dikenal sebagai wilayah yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh warganya.

