HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah Indonesia secara resmi menggeser fokus motor pertumbuhan ekonomi domestik dari sektor ekstraktif ke sektor pariwisata berkelanjutan.
Langkah strategis ini diambil guna menopang target ambisius pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen. Target ini dibarengi dengan kontribusi pariwisata mencapai 5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta perolehan devisa sebesar 39,4 miliar dolar AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa nilai target devisa pariwisata tersebut kini sudah setara dengan komoditas ekspor andalan Indonesia.
“Angka 39 miliar dolar ini setara dengan nilai ekspor komoditas utama kita seperti batubara dan sawit. Ini membuktikan bahwa kita tidak boleh hanya mengandalkan industri ekstraktif. Kita harus menggenjot pariwisata sebagai sektor yang sustainable,” ujar Menko Airlangga.
Menko Airlangga juga menyampaikan apresiasinya atas kinerja ekonomi awal tahun 2026 yang tumbuh positif di angka 5,61 persen. Fondasi ekonomi yang kuat ini diharapkan menjadi modal besar bagi sektor pariwisata untuk mencapai target-target ambisius tersebut.
Upaya besar ini dibahas secara mendalam dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata 2026. Forum strategis ini berlangsung selama dua hari, yakni pada 20–21 Mei 2026, di Balairung Soesilo Soedarman, Kementerian Pariwisata, Jakarta.
Mengusung tema “Optimalisasi, Resiliensi, Inovasi, dan Keberlanjutan: Transformasi Ekosistem Kepariwisataan Nasional Menuju Target 2026”, forum ini menjadi ruang sinkronisasi regulasi lintas sektor.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menjelaskan bahwa pelaksanaan Rakornas tahun ini bertepatan dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional. Momentum ini menjadi simbol kebangkitan daya saing pariwisata Indonesia di kancah global.
“Momentum Kebangkitan Nasional menjadi pengingat bahwa pariwisata adalah juga gerakan bersama untuk membangun kebanggaan, kemandirian, dan daya saing bangsa,” kata Menparekraf Widiyanti dalam sambutannya.
Widiyanti menambahkan bahwa di setiap destinasi tersimpan kekuatan budaya, alam, kreativitas, serta keramahan masyarakat Indonesia. Semua aspek tersebut dinilai menjadi modal sosial yang sangat besar untuk bangkit dan maju.
Transformasi ekosistem pariwisata nasional ke depan akan bertumpu pada fondasi ORIK (Optimalisasi, Resiliensi, Inovasi, dan Keberlanjutan). Ia menekankan bahwa hasil akhir dari rakornas ini tidak boleh sekadar menjadi wacana di atas kertas.
“Kita harus mewujudkan transformasi ekosistem pariwisata yang resilien dan tumbuh secara berkelanjutan agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat di seluruh Indonesia. Upaya ini tidak boleh berhenti pada perumusan gagasan, tetapi harus menghasilkan langkah yang konkret, terintegrasi, jelas, dan terukur,” tambahnya.
Guna merealisasikan target besar tersebut, pemerintah menetapkan lima strategi kolaboratif utama. Strategi tersebut meliputi penguatan SDM vokasi melalui sertifikasi berstandar global serta peningkatan standar keselamatan di berbagai destinasi secara ketat.
Selain itu, strategi ini mencakup perluasan kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK), penguatan otoritas kawasan dan skema pendanaan pariwisata, hingga maksimalisasi konektivitas transportasi baik melalui jalur udara, darat, maupun laut.
Di sisi lain, Rakornas 2026 juga fokus menjawab tantangan global seperti krisis energi, keselamatan global, krisis iklim (climate crisis), regulasi akomodasi dan Online Travel Agent (OTA), hingga tren pasar masa depan seperti sustainable, wellness, dan gastronomy tourism demi menciptakan destinasi regeneratif yang aman dan terintegrasi.


