Geger Wabah di Kapal Pesiar, WHO Sebut Hantavirus Andes Bisa Menular Antar Manusia

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Wabah penyakit misterius yang menyerang kapal pesiar MV Hondius akhirnya mulai menemukan titik terang. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mengonfirmasi bahwa wabah tersebut berkaitan dengan strain Andes dari hantavirus.

Virus itu varian langka yang dikenal mematikan dan dapat menular antarmanusia. Hal itu disampaikan WHO pada Rabu, 6 Mei, setelah sejumlah penumpang kapal pesiar dilaporkan jatuh sakit selama pelayaran yang dimulai dari Argentina.

Dari hampir 150 penumpang di dalam kapal, delapan kasus kini diduga berkaitan dengan wabah tersebut. Tiga di antaranya telah dipastikan positif hantavirus melalui pemeriksaan laboratorium. Sementara, sedikitnya tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia.

Strain Andes diketahui berasal dari wilayah Amerika Selatan, terutama Argentina dan Chili. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), varian ini menjadi satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui bisa menular dari manusia ke manusia.

Secara umum, hantavirus merupakan penyakit menular yang biasanya menyebar melalui kontak dengan hewan pengerat seperti tikus rusa, tikus kapas, tikus padi, hingga tikus berkaki putih.

Penularan lazim terjadi saat manusia bersentuhan dengan urin, air liur, atau kotoran hewan yang terinfeksi.

- Advertisement -

Namun, dalam kasus strain Andes, WHO menyebut penularan bisa terjadi melalui kontak dekat dan berkepanjangan antar manusia. Hal itu terutama pada fase awal penyakit saat virus lebih mudah menyebar.

“Asumsi kami adalah mereka terinfeksi di luar kapal dan kemudian bergabung dengan pelayaran,” kata epidemiolog penyakit menular, Maria Van Kerkhove dalam konferensi pers dikutip dari People, Kamis, (7/5/2026).

Dia menuturkan penularan itu bisa terjadi antar manusia dengan kontak. “Kami percaya bahwa mungkin ada penularan dari manusia ke manusia yang terjadi di antara kontak yang sangat dekat, suami dan istri, orang-orang yang berbagi kabin,” tutur Maria.

Gejala hantavirus sendiri bisa muncul dalam rentang dua hingga delapan minggu setelah paparan. Penderitanya umumnya mengalami kelelahan, demam, nyeri otot, hingga mual.

Hingga kini belum ada pengobatan khusus untuk penyakit tersebut dan penanganan medis lebih difokuskan pada pengelolaan gejala.

Yang membuat strain Andes semakin mengkhawatirkan adalah tingkat fatalitasnya yang tinggi. WHO mencatat tingkat kematian kasusnya mencapai sekitar 40 persen.

Dengan adanya potensi penularan antarmanusia, strategi penanganan wabah kini berubah drastis.

“Jika hanya ada tikus di kapal, maka mengevakuasi orang dari kapal dan mencegah orang lain terpapar tikus di kapal seharusnya cukup untuk menghentikan penyebarannya,” kata asisten profesor kedokteran di University of Michigan, Emily Abdoler Emily Abdoler.

“Tetapi, dengan virus Andes, mengeluarkan orang dari kapal tidak menghentikan penyebarannya,” tutur Abdoler.

Adapun para penumpang kapal dilaporkan dikurung di kabin masing-masing guna membatasi kontak dan mengurangi risiko penularan. Otoritas kesehatan juga menerapkan langkah sanitasi tambahan selama investigasi berlangsung.

Meski situasi memicu kekhawatiran internasional, WHO menyampaikan risiko terhadap populasi global masih rendah. Organisasi tersebut menyatakan terus memantau perkembangan wabah dan bekerja sama dengan otoritas kesehatan internasional untuk melacak individu yang mungkin terpapar virus.

Kasus di MV Hondius kini jadi perhatian dunia Kesehatan. Diduga kapal terdapat varian hantavirus langka yang memiliki kemampuan penularan berbeda dibanding kebanyakan jenis hantavirus lainnya.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Dani Yoga
Dani Yoga
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU