HOLOPIS.COM, MAKASSAR – Program Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata juga diminati sejumlah Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH).
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof Brian Yuliarto menyebut 18 kampus sudah mengajukan untuk membuat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Brian mengatakan pertemuan Rektor PTN-BH menjadi pendorong agar kampus bisa memberikan dukungan program Presiden Prabowo Subianto, salah satunya adalah MBG.
“Jadi intinya adalah bagaimana kita dari perguruan tinggi bisa melakukan peran untuk mendukung program prioritas Bapak Presiden, salah satunya adalah program MBG,” ujarnya kepada wartawan usai U25 Leaders Forum di Hotel Universitas Hasanuddin Makassar, Selasa (28/4).
Brian mengatakan perguruan bisa menjadi wadah untuk riset dan inovasi demi mendukung program pemerintah. Ia berharap PTN-BH tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mensukseskan program MBG.
“Terpenting adalah kampus atau perguruan tinggi ini tidak hanya sebagai penonton, tetapi kita juga ingin berperan melalui SPPG,” kata Brian.
Brian mengapresiasi Universitas Hasanuddin yang sudah membangun SPPG. Ia menyebut SPPG Unhas Tamalanrea bisa menjadi contoh bagi perguruan tinggi lainnya.
“Tadi sudah dilihat-lihat oleh Pak Kepala (BGN) juga, bagaimana Kampus Unhas membangun SPPG. Sehingga nantinya akan bisa menjadi sekaligus teaching factory, tempat praktik, penelitian dan pengembangan lebih lanjut program MBG yang ada di masyarakat,” kata Brian.
Brian mengungkapkan saat ini sudah ada 18 perguruan tinggi di Indonesia yang siap menyusul Unhas membangun SPPG.
“Kita sudah mengirim surat ke kepala BGN ada 18 kampus yang sudah bersedia dan berkenan untuk menjadikan kampusnya sebagai SPPG. Semoga bisa dipenuhi (syarat pembangunan SPPG),” kata guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.
Sementara Kepala BGN RI Dadan Hindayana sia menyambut jika ada perguruan tinggi terlibat dalam program MBG dengan siap membangun SPPG.
Dadan mengaku tersanjung jika para Rektor yang tergabung dalam PTN-BH terlibat menyukseskan.
“Saya menyampaikan hal terkait dengan terbukanya kampus untuk terlibat dalam program MBG karena teknologi, SDM, dan inovasi-inovasi yang dimiliki oleh perguruan tinggi,” tegasnya.
“Saya kira akan banyak manfaatnya untuk pengembangan program Makan , mulai dari pengembangan peralatan, keamanan pangan, kemudian pelatihan, bimbingan teknis, termasuk juga terkait dengan keterlibatan kampus di dalam menyelenggarakan program MBG,” tegasnya. .
Seperti contohnya yang dilakukan oleh Universitas Hasanuddin ini, adalah ini SPPG pertama di kampus PTNBH di Indonesia Timur. Di IPB sudah ada, di beberapa perguruan tinggi swasta sudah ada, tapi ini yang pertama di perguruan tinggi negeri di Indonesia Timur. Saya kira Unhas selalu leading dalam hal tersebut. Saya ucapkan selamat, mudah-mudahan nanti keterlibatan kampus membawa program ini semakin baik,” imbuhnya.
Terkait SPPG Unhas Tamalanrea Makassar yang baru diresmikan, Dadan mengaku sudah sempurna. Bahkan, Dadan menyebut SPPG di Unhas sudah dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan juga Reverse Osmosis.
“Dari apa yang sudah saya lihat ini sudah perfect, sudah bagus. Termasuk pengelolaan limbahnya, termasuk pengelolaan airnya,” kata Dadan.
Dadan yakin Unhas bisa menjadi percontohan bagi perguruan tinggi lainnya yang ingin membangun SPPG. Apalagi, Unhas merupakan PTN-BH pertama di Indonesia Timur yang memiliki SPPG.
“Dengan ada teknologi yang sudah dilakukan di SPPG Unhas ini, saya kira akan menjadi percontohan di tempat lain. IPAL-nya sendiri juga bagus sekali dan saya kira ini akan menjadi percontohan di tempat lain,” tuturnya.
Sementara Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa menambahkan kehadiran SPPG bisa menjadi laboratorium gizi dan kesehatan anak di Unhas. Ia mengatakan Unhas memiliki Program Studi (Prodi) Gizi dan Kesehatan Lingkungan.
“Mudah-mudahan ini bisa menjadi contoh. Jika ada kekurangan nanti kami mohon masukan,” ucapnya.

