HOLOPIS.COM, JAKARTA – Anggota parlemen senior Iran mengungkapkan dalam rancangan rencana parlemen, staf umum angkatan bersenjata Iran ditetapkan sebagai otoritas yang bertanggung jawab untuk mengambil tindakan di Selat Hormuz.
Kepala komite keamanan nasional dan kebijakan luar negeri parlemen Iran Ebrahim Azizi menegaskan, langkah tersebut guna menjamin keamanan di jalur perairan tersebut.
Azizi pada Senin (27/4) mengatakan rencana tersebut terdiri dari hampir 11 pasal dan bertujuan untuk membatasi lalu lintas kapal-kapal musuh melalui selat tersebut. Dia menambahkan bahwa rencana itu secara mutlak melarang semua kapal yang berafiliasi dengan Israel untuk melintasi jalur perairan tersebut.
“Berdasarkan rencana tersebut, diperkirakan bahwa hasil keuangan yang diperoleh dari Selat Hormuz akan berupa mata uang Iran, yaitu rial,” kata Azizi dalam pernyataannya yang dikutip Holopis.com.
Dia mengatakan semua pihak, pemerintah, dan negara yang telah menimbulkan kerugian dan kerusakan terhadap Iran, membekukan aset-aset Iran, atau melakukan tindakan bermusuhan terhadap Iran dalam beberapa tahun terakhir harus membayar kompensasi.
Azizi menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran telah sepenuhnya dan secara cerdas mengendalikan selat tersebut berdasarkan perintah yang diterima dari eselon kekuasaan yang lebih tinggi dalam struktur pemerintahan Iran.
Dia menggarisbawahi bahwa rencana parlemen ini disusun berdasarkan langkah-langkah yang diusulkan oleh Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, yang menekankan perlunya penerapan manajemen baru atas selat tersebut.
Sementara itu, Alaeddin Boroujerdi, anggota komite parlemen yang sama, mengatakan rencana tersebut akan segera disahkan menjadi undang-undang (UU) setelah parlemen Iran kembali dibuka, dan UU itu akan diajukan kepada pemerintah untuk diberlakukan.
Boroujerdi mengatakan Bank Sentral Iran telah membuka empat rekening khusus dalam mata uang rial, yuan, dolar AS, dan euro, untuk menyimpan pungutan yang diterima oleh Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sesuai dengan arahan yang berlaku.
Iran memperketat cengkeramannya di Selat Hormuz setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan mereka ke Iran pada 28 Februari. Amerika Serikat juga memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan kapal-kapal yang menuju ke dan keluar dari Iran.
Hal itu dilakukan setelah perundingan perdamaian antara kedua pihak di Islamabad, Pakistan gagal.


