HOLOPIS.COM, YOGYAKARTA – Kampung Mrican di Sleman, Yogyakarta, sukses membuktikan bahwa kekuatan gotong royong warga mampu menyulap keterbatasan menjadi sebuah mahakarya yang meraih penghargaan internasional Ammodo Architecture Award 2025 untuk kategori Social Architecture.
Keunikan transformasi inilah yang menarik perhatian Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar, untuk turun langsung meninjau kawasan asri tersebut pada Rabu (15/4).
Bagi Wamen Ekraf, apa yang terjadi di Mrican bukan sekadar urusan estetika bangunan. Ia melihat adanya “nyawa” dalam setiap sudut kampung yang kini tertata rapi.
“Keberhasilan Kampung Mrican bukan sekadar soal estetika bangunan atau penghargaan arsitektur semata. Ini adalah bukti nyata kekuatan komunitas warga yang mampu mengubah wajah lingkungan menjadi lebih produktif dan berdaya saing melalui sentuhan ekonomi kreatif,” ujar Irene Umar di sela kunjungannya.
Kunjungan ini memperlihatkan betapa kreatifnya warga Mrican dalam memaksimalkan lahan terbatas. Irene Umar disambut oleh kelompok ibu-ibu di joglo yang memamerkan hasil urban farming berupa sawi dan jamur. Tak hanya itu, di Jembatan Sungai Pelang, Wamen Ekraf dibuat takjub oleh produk Eco-Enzyme hasil olahan limbah kulit buah.
Sampah organik tersebut diolah menjadi produk multifungsi mulai dari obat luka, pembersih lantai, hingga pupuk cair yang dikemas secara profesional.
“Inovasi lingkungan seperti eco-enzyme ini adalah produk ekonomi kreatif masa depan. Mengubah sampah menjadi emas atau produk bernilai jual adalah esensi dari kreativitas yang berdampak langsung pada kantong warga dan kesehatan bumi,” tambah Wamen Ekraf dengan nada optimis.
Keunikan lain dari Kampung Mrican adalah keseimbangan antara pengembangan otak dan keamanan raga. Kehadiran Microlibrary sebagai pusat literasi berdiri berdampingan dengan Posko Pantau Banjir yang canggih. Hal ini menunjukkan bahwa warga tidak hanya melek ilmu, tapi juga siap siaga terhadap tantangan alam.
Kepala Dukuh Pringwulung, Sahid Fahrudin, menegaskan bahwa kemandirian adalah kunci utama yang mereka pegang selama ini.
“Kami sangat senang dengan kehadiran Ibu dan berharap berbagai komunitas di sini mendapat dukungan dari Ibu Wamen Ekraf agar kampung ini semakin mandiri serta menjadi pusat ekonomi kreatif yang tangguh, karena memang kekuatan utama kami ada di kekompakan komunitasnya,” ungkap Sahid Fahrudin.
Kunjungan berakhir di Ruang Terbuka Publik (RTP) Gatotkaca, sebuah area ikonik yang memadukan desain modern dengan kearifan lokal. Dengan segala capaiannya, Kampung Mrican kini bukan lagi sekadar pemukiman di pinggir sungai, melainkan laboratorium hidup bagi ekonomi kreatif berbasis komunitas.
Wamen Ekraf berkomitmen akan terus mendampingi ekosistem ini agar semakin “naik kelas” dan menginspirasi jutaan kampung lain di seluruh penjuru Indonesia untuk berani bermimpi dan bertransformasi.

