Program MBG Mulai Lagi, Peternak Ayam dan Telur Akhirnya Bisa Tersenyum Lagi

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Dimulainya tahun ajaran baru sekolah menjadi berkah tersendiri bagi para peternak unggas di tanah air. Bergulirnya kembali Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti ampuh mendongkrak harga ayam hidup dan telur ayam ras yang sempat anjlok.

Kenaikan harga di tingkat produsen ini menjadi napas baru buat para peternak, setelah beberapa pekan sebelumnya megap-megap akibat sepinya serapan pasar.

Kini, dengan jutaan anak sekolah yang kembali mendapat jatah makanan bergizi, serapan daging ayam dan telur diproyeksikan bakal terus meroket.

“Jadi MBG itu ada pengaruhnya. Mulai masuk anak sekolah, MBG dimulai, ini (harga telur dan ayam) sudah mulai naik,” ujar Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, Rabu (15/7/2026).

Mengintip Data Bapanas: Harga Ayam dan Telur Mulai Merangkak Naik

Berdasarkan data terbaru dari Bapanas per 14 Juli, rata-rata harga ayam broiler hidup di tingkat peternak sekarang menyentuh Rp21.736 per kilogram (kg). Angka ini terpantau naik 4,11 persen kalau dibanding pekan lalu yang cuma mentok di Rp20.878 per kg.

Meski begitu, grafik harga di tiap wilayah di Indonesia memang belum merata sepenuhnya:

- Advertisement -
  • Sumatera Selatan: Masih tertinggal di angka Rp18.125 per kg.
  • Riau: Justru melesat tinggi sampai Rp25.600 per kg (sudah melewati Harga Acuan Pembelian/HAP pemerintah yang dipatok Rp25.000).
  • Kondisi yang mirip-mirip juga menular ke komoditas telur ayam ras. Rata-rata harga nasionalnya merangkak naik ke Rp22.644 per kg.

Daerah Banten mencatat harga telur paling miring, yaitu Rp20.300 per kg. Sebaliknya, pasokan telur di Sulawesi Utara jadi yang paling mahal lantaran menembus Rp28.200 per kg—di atas ketentuan HAP peternak yang sebesar Rp26.500 per kg.

Sempat Lesu Akibat Efek Musiman “Bulan Suro”

Ketut membeberkan bahwa anjloknya harga beberapa waktu lalu sebenarnya bukan cuma karena faktor sekolah libur, tapi juga imbas dari mitos bulan Suro dalam kalender Jawa. Pada periode ini, hajatan besar seperti pesta pernikahan biasanya sepi digelar.

“Sebenarnya bulan Suro itu juga pengaruh besar karena bulan kemarin itu relatif bulan Suro, sehingga acara-acara mantenan dan lain sebagainya kan terhenti, sehingga permintaan terkait dengan ayam itu relatif menurun, sehingga harga terkoreksi,” jelas Ketut.

Pihak Bapanas sendiri sangat optimistis. Kombinasi antara lewatnya momen bulan Suro ditambah masifnya perputaran Program MBG di sekolah-sekolah diyakini bakal jadi mesin utama pemulihan ekonomi para peternak lokal.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Ronalds Petrus Gerson
Ronalds Petrus Gerson
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

YANG BARU