Mahfud MD Minta TNI Transparan, Bawa Para Pelaku ke Pengadilan

8 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Mantan Menko Polhukam, prof Mahfud MD mengatakan bahwa dirinya percaya jika Polri mampu mengungkap kasus penyiraman air keras kepada Andrie Yunus secara cepat.

“Sejak awal terjadinya penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, saya yakin Polri bisa cepat mengungkap pelakunya,” kata Mahfud MD dalam akun X pribadinya @mohmahfudmd seperti dikutip Holopis.com, Minggu (29/3/2026).

- Advertisement -

Hal ini semakin membuat dirinya yakin setelah beberapa hari kasus penyiraman air keras itu terjadi, Polri melalui Ditreskrimum Polda Metro Jaya merilis para pelaku atau eksekutor lapangan melalui berbagai tangkapan kamera CCTV di sekitar lokasi kejadian, hingga jalur aktivitas para pelaku.

“Saya tahu Polri amat profesional dalam (kasus) seperti ini. Benar, hanya 2 hari setelah itu Polri dapat mengungkap,” ujarnya.

- Advertisement -

Oleh sebab itu, saat ini menurutnya bola panas ada di tangan TNI. Apakah kasus ini bisa segera diproses di pengadilan atau tidak. Yakni melalui serangkaian proses persidangan yang transparan dan akuntabel.

“Kini giliran TNI yang harus juga profesional dan transparan dalam membawa ke pengadilan,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, bhawa Kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, memasuki fase kritis setelah dua institusi keamanan mengumumkan identitas tersangka yang berbeda.

Polda Metro Jaya menyoroti dua eksekutor dengan inisial BHC dan MAK, sementara Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI mengungkap empat anggota Denma BAIS TNI berinisial NDP, SL, BHW, dan ES.

Perbedaan ini memicu pertanyaan serius di kalangan legislatif, lembaga hak asasi manusia, dan publik.

Puspom TNI, dipimpin Mayor Jenderal Yusri Nuryanto, mengumumkan penahanan empat prajurit BAIS TNI yang berstatus Denma, berasal dari matra Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Tiga di antaranya berpangkat perwira, dengan satu kapten (NDP), dua Letnan (SL, BHW), dan satu Serda (ES). Menurut Yusri, keempat tersangka bukan anggota satuan khusus, melainkan anggota Denma BAIS TNI. Ia menekankan bahwa proses penyidikan sedang berlangsung dan keempat tersangka telah diamankan.

Perbedaan inisial antara TNI dan Polri menimbulkan kebingungan. Polisi menegaskan bahwa inisial BHC dan MAK berasal dari data internal Polri, sementara TNI mengacu pada kode internal militer. Kedua belah pihak menyatakan akan berkoordinasi lebih lanjut untuk menyelaraskan temuan.

Secara keseluruhan, kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus menjadi sorotan publik tidak hanya karena kekerasan fisik yang terjadi, melainkan juga karena dinamika politik, militer, dan hukum yang terlibat. Koordinasi antar lembaga, verifikasi bukti, dan penjelasan motif menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap institusi keamanan.

Dengan penyelidikan yang masih berlanjut, publik menantikan hasil final yang dapat menjawab pertanyaan tentang siapa sebenarnya pelaku, apa motivasinya, serta bagaimana pertanggungjawaban akan ditegakkan, baik di ranah sipil maupun militer.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
8 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru