HOLOPIS.COM, Jakarta — Film horor The Bell angkat legenda Penebok dari Belitung Timur, siap tayang 7 Mei 2026 dengan kisah misteri lonceng terkutuk.
Belitung Timur bakal jadi sorotan baru di industri film horor Indonesia lewat hadirnya film berjudul “The Bell: Panggilan untuk Mati” yang dijadwalkan tayang pada 7 Mei 2026.
Film ini mencoba menawarkan sesuatu yang beda dari horor Indonesia pada umumnya, karena tidak lagi mengandalkan sosok hantu dari Jawa yang sudah sering muncul di layar lebar, melainkan mengangkat legenda lokal dari Belitung Timur yang dikenal dengan nama Penebok.
Penebok sendiri dalam cerita masyarakat setempat digambarkan sebagai makhluk gaib tanpa kepala yang sudah lama menjadi bagian dari cerita rakyat di Belitung.
Sosok ini dulu sering digunakan orang tua zaman dulu sebagai “cerita penakut” agar anak-anak tidak keluar rumah terlalu jauh, apalagi ke hutan saat malam hari.
Namun dalam film ini, Penebok tidak lagi sekadar cerita yang diwariskan turun-temurun, melainkan berubah menjadi teror nyata yang mengganggu kehidupan masyarakat.
Cerita dalam film ini semakin menyeramkan karena tidak hanya berfokus pada Penebok, tetapi juga pada sebuah benda keramat berupa lonceng peninggalan masa kolonial.
Lonceng ini dipercaya masyarakat sebagai benda sakral yang memiliki kekuatan untuk mengurung roh jahat.
Ada satu aturan yang sudah lama dipercaya turun-temurun, yaitu lonceng tersebut tidak boleh dibunyikan setelah pukul enam sore.
Jika aturan itu dilanggar, maka akan terjadi sesuatu yang buruk.
Dalam cerita film ini, pelanggaran terhadap aturan tersebut menjadi awal dari munculnya kembali teror Penebok yang selama ini dipercaya sudah terkunci.
Sutradara film ini, Jay Sukmo, menjelaskan The Bell bukan sekadar film horor biasa yang hanya mengandalkan jumpscare atau penampakan menakutkan.
Menurutnya, film ini juga membawa misi untuk mengenalkan kembali cerita rakyat Indonesia yang selama ini belum banyak dieksplorasi di dunia perfilman.
Ia mengatakan bahwa horor di Indonesia saat ini sudah berkembang, tidak hanya soal rasa takut, tetapi juga soal cerita yang punya akar budaya kuat dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Dalam proses produksinya, film ini juga melakukan pengambilan gambar langsung di Belitung Timur.
Beberapa lokasi yang digunakan antara lain Bukit Samak di Manggar, kawasan Gantung, serta sejumlah pantai di Dendang dan Teropong.
Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan, karena tim produksi ingin menghadirkan suasana yang benar-benar terasa nyata dan dekat dengan cerita aslinya.
Dengan latar alam Belitung yang dikenal indah namun juga menyimpan cerita mistis, film ini diharapkan bisa memberikan pengalaman horor yang lebih kuat dan berbeda.
Film The Bell: Panggilan untuk Mati dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris muda hingga senior Indonesia.
Beberapa nama yang terlibat di antaranya Bhisma Mulia, Givina, Ratu Sofya, Mathias Muchus, dan Septian Dwi Cahyo.
Kehadiran para pemain ini diharapkan mampu menghidupkan cerita yang penuh ketegangan sekaligus membawa emosi penonton masuk ke dalam alur kisah yang dibangun.
Produser film Rendy Gunawan bersama Aris Muda menyebut bahwa salah satu tujuan utama dari film ini adalah menghadirkan karakter horor baru yang kuat dan bisa menjadi ikon.
Mereka ingin Penebok tidak hanya dikenal sebagai hantu lokal Belitung, tetapi juga bisa menjadi bagian dari deretan makhluk menyeramkan dalam perfilman Indonesia yang diingat oleh penonton dalam jangka panjang.
Menurut mereka, Indonesia memiliki banyak sekali cerita rakyat yang belum digali secara maksimal, padahal memiliki potensi besar untuk diangkat ke layar lebar.
Ide cerita film ini sendiri berawal dari pengalaman produser eksekutif Budi Yulianto saat berkunjung ke Belitung Timur.
Ia menemukan bahwa masyarakat setempat masih sangat lekat dengan cerita Penebok dan mitos lonceng keramat.
Cerita itu bahkan masih sering diceritakan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari budaya lokal.
Dari situlah kemudian muncul gagasan untuk mengangkat cerita tersebut menjadi sebuah film horor yang bisa dinikmati secara nasional.
Dengan menggabungkan unsur legenda lokal, sejarah masa kolonial, serta latar alam yang kuat, The Bell: Panggilan untuk Mati diharapkan tidak hanya menjadi film horor yang menegangkan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya Belitung Timur ke penonton yang lebih luas.
Film ini sekaligus menunjukkan bahwa cerita horor Indonesia tidak harus selalu datang dari tempat yang sama, karena setiap daerah memiliki kisah mistisnya sendiri yang tak kalah menyeramkan.
Tayang pada 7 Mei 2026 di bioskop seluruh Indonesia, film ini diprediksi akan menjadi salah satu horor lokal yang paling ditunggu, terutama karena menawarkan nuansa baru, cerita berbeda, dan karakter hantu yang belum pernah muncul di layar lebar sebelumnya.

