HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kericuhan dengan rangkaian aksi demonstrasi di Iran terus meluas. Kondisi makin mencekam karena akses komunikasi internet lumpuh hingga banyak jadwal penerbangan dibatalkan.
Eskalasi demonstrasi yang meluas dengan korban jiwa sudah berjatuhan membuat rezim ulama sejak Revolusi Islam jadi sorotan global.
Dalam pernyataannya, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei buka suara terkait prahara yang terjadi di Tanah Persia itu. Dia mengatakan pejabat pemerintah sudah bicara dengan para demonstran. Namun, ia menilai tak ada gunanya bicara dengan perusuh yang membuat kondisi chaos.
“Kita berbicara dengan para demonstran; para pejabat harus berbicara dengan mereka, tetapi tidak ada gunanya berbicara dengan para perusuh. Para perusuh harus ditempatkan pada tempatnya,” kata Khamenei dikutip dari Aljazeera pada Minggu, (11/1/2026).
Dia malah memuji pelaku pasar tradisional dan para pedagangnya sebagai salah satu sektor yang paling setia kepada Republik Islam. Khamenei mengkliam musuh negara tak bisa memanfaatkan pasar sebagai kendaraan untuk melawan sistem di Iran.
Namun, omongan Khamenei sepertinya berbalik dengan fakta di lapangan. Protes terus berlanjut dan meluas hingga muncul di Pasar Teheran.

Aparat pihak berwenang juga sudah menggunakan gas air mata terhadap para demonstran yang meneriakkan slogan-slogan anti-negara. Para pendemo juga meneriakkan dengan menghujat nama Khamenei selaku Pemimpin Tertinggi Iran.
Kebijakan otoritas Iran yang secara simbolis ingin memisahkan pelaku pasar tradisional dari kerusuhan yang lebih luas pun gagal. Pasalnya, sebagian pelaku pasar yang diduga juga ikut dalam demonstrasi ricuh itu.
Adapun omongan Khamenei soal warisan revolusioner pasar tradisional berakar pada fakta sejarah. Pasar tradisional memainkan peran penting dalam revolusi 1979 yang menggulingkan Mohammad Reza Shah Pahlavi.
Warisan revolusioner pasar tradisional itu dinilai tetap selaras dengan jaringan politik konservatif dalam beberapa dekade berikutnya. Tapi, kondisi itu saat ini dikhawatirkan tak menjadi loyalitas historis lagi yang bisa menjamin ketenangan politik rezim ulama dalam memimpin Iran.
Dalam dinamika selama 20 tahun terakhir, kedudukan ekonomi pasar tradisional terus terkikis oleh favoritisme negara terhadap mesin ekonomi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Terkikis pula dengan kehadiran yayasan-yayasan revolusioner-keagamaan besar (bonyad), pengelolaan sanksi, dan inflasi kronis.
Kondisi itu menyebabkan sektor yang dulu dinilai sebagai basis kuat rezim malah jadi korban lain dari disfungsi sistemik.
Kericuhan di Iran diawali pada akhir Desember 2025. Saat itu, para pedagang dan pemilik toko di sejumlah area bazar melakukan mogok kerja. Aksi mereka itu karena jebloknya nilai mata uang Iran terhadap dolar AS ke titik terendah sepanjang sejarah.
Namun, aksi itu sepertinya hanya awal eskalasi yang terus meluas hingga sekarang. Kericuhan terus merembet ke berbagai daerah Iran. Pun, dengan kondisi ricuh horor di Iran membuat pasukan Garda Revolusi Iran sampai turun tangan.
Otoritas Iran membuat kebijakan dengan melakukan pemadaman internet nasional pada 9 Januari 2026. Hal itu berimbas luas terhadap aktivitas masyarakat termasuk banyak batalnya jadwal penerbangan.
Mengutip dari Arab News, Garda Revolusi Iran memperingatkan pihaknya akan menjaga keamanan. Komitmen itu dengan menjaga ‘garis merah’ wilayah republik Islam Iran. Selain itu, militer berjanji untuk melindungi properti publik.
Pun, rezim ulama juga berjanji untuk meningkatkan upaya untuk meredam aksi demo yang terus meluas dalam beberapa tahun terakhir.
Kerusuhan berlanjut saat adanya pemberitaan sebuah gedung pemerintah kota dibakar di Karaj, sebelah barat Teheran. Para perusuh disudutkan dalam insiden pemberitaan itu.
Dari keterangan saksi di Iran barat yang diwawancarai mengatakan Garda Revolusi dikerahkan dan melepaskan tembakan di daerah tempat mereka berbicara. Tapi, saksi menolak namanya diungkap demi keselamatan mereka.


