Distribusi Bantuan Gaza Ricuh di Hari Pertama, Cara Penyaluran Dinilai Tak Becus

0 Shares

JAKARTA – Ribuan warga Palestina memadati pusat distribusi bantuan kemanusiaan di Rafah pada Selasa (26/5), yang berujung pada kericuhan dan menyebabkan gangguan ketertiban pada hari pertama pembukaan pusat tersebut yang beroperasi di bawah pengawasan militer Israel, demikian diungkapkan beberapa saksi mata dan narasumber Palestina kepada awak media.

Didirikan di bundaran Al-Alam di Gaza selatan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang didukung Israel, sebuah organisasi yang berbasis di Amerika Serikat (AS), pusat bantuan tersebut ditujukan untuk menyalurkan bantuan makanan kepada warga yang mengalami kekurangan pangan akibat blokade Israel.

Namun proses distribusi dinilai kacau dan malah membahayakan keamanan para penerima bantuan. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) secara terbuka menyatakan keberatannya terhadap inisiatif tersebut.

“Kami telah menonton video yang berasal dari Gaza di sekitar salah satu titik distribusi yang didirikan oleh GHF. Dan sejujurnya, video-video ini, gambar-gambar ini, sangat memilukan,” ungkap Juru Bicara PBB Stephane Dujarric, dikutip Holopis.com, Rabu (28/5).

Kericuhan terjadi ketika warga berusaha menyerbu fasilitas tersebut dan mengambil paket-paket bantuan makanan, bahkan membongkar sebagian pagar kawat berduri yang mengelilingi lokasi tersebut.

Menurut para saksi mata, situasi dengan cepat memburuk akibat kerumunan yang sangat padat dan massa yang berdesakan yang memperparah kekacauan.

- Advertisement -

Sementara itu Stephanie juga mengatakan bahwa Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres telah memiliki rencana terperinci dan berprinsip untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Hal itu disampaikan olejh

“Sebagaimana telah disampaikan oleh Guterres pekan lalu, kami dan mitra-mitra kami memiliki rencana yang terperinci, berprinsip, dan secara operasional didukung oleh Negara-negara Anggota untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Dujarric.

Rekaman yang beredar di media sosial menunjukkan kerumunan massa yang menyerbu daerah tersebut dan berdesakan untuk mengambil paket bantuan.

Militer Israel mengatakan bahwa pasukannya, yang dikerahkan di luar lokasi untuk pengamanan, melepaskan tembakan peringatan namun membantah telah menembak langsung ke arah kerumunan itu ataupun menembak dari helikopter.

Sejumlah narasumber Palestina mengungkapkan bahwa personel keamanan swasta AS yang dikontrak untuk menjaga pusat tersebut justru menarik diri ketika situasi memanas. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan terkait korban dalam insiden itu.

Sebagai informasi Sobat Holopis, menurut otoritas kesehatan di Gaza yang dikuasai Hamas, jumlah warga Palestina yang tewas sejak pecahnya konflik Israel-Hamas pada 7 Oktober 2023 telah melampaui 54.000 orang.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Darin Brenda Iskarina
Darin Brenda Iskarina
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU