HOLOPIS.COM, JAKARTA – Warga Jalur Gaza diliputi kecemasan di tengah berlangsungnya perundingan gencatan senjata antara Hamas dan Israel. Mereka khawatir negosiasi kembali menemui jalan buntu sehingga memicu eskalasi militer baru, meski para mediator regional dan internasional masih berupaya memperkecil perbedaan kedua pihak.
Sebelumnya pada Juni, Kairo menjadi tuan rumah pertemuan antara faksi-faksi Palestina dan para mediator untuk mendorong tercapainya kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
Namun, pada Selasa (23/6), penasihat media Kepala Biro Politik Hamas, Taher al-Nunu, mengatakan proses negosiasi kembali menghadapi hambatan setelah Israel mengajukan sejumlah usulan tambahan selama perundingan.
Menurut Al-Nunu, Israel terus mengangkat isu mengenai senjata, terowongan, dan kemampuan militer faksi-faksi Palestina. Ia menilai langkah tersebut sebagai upaya untuk mengakhiri perlawanan Palestina.
Sementara itu, sejumlah sumber Palestina yang mengetahui jalannya negosiasi menyebut berbagai faksi Palestina menolak usulan perubahan tersebut dan tetap berpegang pada posisi bersama yang mereka yakini dapat menjaga kepentingan Palestina. Di tengah ketidakpastian itu, warga Gaza terus memantau perkembangan perundingan sambil berharap konflik segera berakhir.
“Hari ini, kami kembali mendengar kabar bahwa perundingan telah dilanjutkan lagi. Namun sampai kapan? Sebagai warga Gaza dan sebagai rakyat Palestina, kami menjalani tragedi ini dan merasakan perang dalam segala bentuknya,” ujar Ahmed Hamad, warga Gaza, dikutip Holopis.com, Jum’at (26/6).
Menurut Hamad, warga kini hidup dalam ketidakpastian karena belum ada kejelasan mengenai kapan perang akan berakhir dan kapan mereka bisa kembali menjalani kehidupan seperti semula.
“Berapa lama lagi kami akan terus terjebak dalam kehidupan yang menggantung ini, tanpa mengetahui cara melangkah maju atau berbalik arah?” lanjutnya.
Senada dengan Hamad, warga lainnya, Suleiman Hajjaj, mengaku sudah tidak lagi menaruh banyak harapan pada proses negosiasi yang berulang kali dimulai, terhenti, lalu kembali dilanjutkan.
“Perundingan yang berulang kali dimulai kembali dari waktu ke waktu, yang sempat membuat sedikit kemajuan sebelum kemudian terhenti lalu kembali dimulai, tidak memberikan harapan bagi kehidupan rakyat Gaza,” katanya.
Sementara itu, Ahmed Musleh mengungkapkan kekecewaannya karena hingga kini belum ada hasil nyata dari proses perundingan. Ia berharap perang segera berakhir agar para pengungsi dapat kembali ke rumah mereka.
“Situasi ini membuat kami merasa sangat kecewa. Kami telah menunggu penyelesaian atas persoalan kami dalam waktu yang sangat lama, dan kami menanti perang ini berakhir agar dapat kembali ke rumah dan wilayah tempat asal kami sebelum mengungsi,” ujarnya.
Musleh menilai pihak Palestina telah menunjukkan fleksibilitas selama proses negosiasi. Namun, belum adanya implementasi dari hasil pembicaraan membuat harapan warga semakin memudar.
“Pihak kami telah menunjukkan fleksibilitas yang besar, tetapi hingga saat ini belum ada satu pun yang diimplementasikan. Fakta bahwa perundingan terus kembali ke titik awal hanya semakin memperdalam kekecewaan kami terhadap segalanya,” pungkasnya.

