Peta bahaya banjir yang disusun BIG juga mulai diarahkan untuk kebutuhan di lapangan.
Salah satunya untuk membantu menilai kelayakan lokasi relokasi sekolah yang terdampak banjir di Aceh.
Informasi mengenai tingkat bahaya banjir dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika pemerintah menentukan lokasi baru. Dengan begitu, fasilitas pendidikan yang dibangun kembali dapat ditempatkan di wilayah yang lebih aman dan tidak mengulang kerentanan yang sama.
Pemanfaatannya juga bisa diperluas untuk menentukan wilayah prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi, mengidentifikasi kawasan dengan tingkat bahaya banjir tinggi, merencanakan pembangunan infrastruktur, serta mengevaluasi lokasi permukiman dan fasilitas publik.
Data tersebut juga dapat digunakan untuk mendukung sistem peringatan dini, kesiapsiagaan bencana, tata ruang berbasis risiko hingga pemantauan perubahan wilayah setelah bencana.
Jadi Baseline Mitigasi Banjir
Bagi BIG, pemetaan pascabanjir bukan sekadar membuat dokumentasi mengenai wilayah yang pernah terdampak.
Data yang dikumpulkan diharapkan menjadi baseline untuk melihat bagaimana kondisi wilayah berubah setelah bencana sekaligus mengevaluasi kembali risiko banjir.
Informasi mengenai pola dan kedalaman genangan, topografi, jaringan sungai, perubahan morfologi, penggunaan lahan, hingga lokasi permukiman dan infrastruktur yang terdampak dapat digunakan untuk menyusun langkah mitigasi berikutnya.
Melalui data geospasial yang terstandar dan terintegrasi, pemerintah ingin proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Sumatera tidak hanya mengembalikan kondisi wilayah seperti sebelum bencana.
Pemetaan tersebut juga diarahkan untuk membantu membangun wilayah yang lebih aman, tangguh, dan lebih siap menghadapi risiko banjir di masa mendatang.



