Trump kemudian menyebut keputusan Komite Nobel Norwegia sebagai sesuatu yang memalukan.
Ia bahkan menilai pemberian penghargaan kepada Pillay telah mencoreng nama Norwegia.
“Penghargaan Nobel Perdamaian telah kehilangan kredibilitas selamanya,” ujar Trump.
Keinginan mendapatkan Nobel Perdamaian bukan hal baru bagi Trump.
Ia berulang kali menonjolkan perannya dalam diplomasi internasional sebagai alasan dirinya pantas memperoleh penghargaan tersebut.
Meski begitu, keputusan penerima Nobel berada di tangan Komite Nobel Norwegia. Kritik dari Trump tidak mengubah hasil penetapan pemenang tahun ini.
Berbeda dengan penilaian Trump, Komite Nobel Norwegia menyoroti pengalaman panjang Pillay dalam memperjuangkan penegakan hukum internasional.
Pillay merupakan tokoh hukum asal Afrika Selatan yang pernah terlibat dalam proses peradilan terhadap pelaku genosida Rwanda.
Ia juga pernah menjadi hakim di Mahkamah Pidana Internasional atau International Criminal Court (ICC).
Ketua Komite Nobel Norwegia, Jørgen Watne Frydnes, menilai Pillay memiliki peran penting dalam mendorong penanganan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida melalui mekanisme hukum.
Selain itu, Pillay pernah memimpin komisi penyelidikan independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyelidiki situasi di Jalur Gaza.
Komisi tersebut menyimpulkan bahwa genosida telah terjadi di wilayah Palestina itu.
Pillay juga memiliki pengalaman sebagai hakim di Mahkamah Internasional (ICJ), termasuk dalam perkara yang berkaitan dengan tuduhan genosida terhadap Myanmar.



