Langkah tersebut diarahkan untuk mengurangi risiko masalah kesehatan akibat paparan asap, khususnya gangguan pada saluran pernapasan.
Namun, imbauan untuk berdiam diri di rumah tidak serta-merta menghilangkan risiko apabila asap masih mencapai lingkungan permukiman.
Situasi inilah yang menjadi salah satu pokok keberatan warganet.
Mereka mempertanyakan bagaimana masyarakat dapat memperoleh perlindungan optimal ketika kualitas udara memburuk dan aktivitas sehari-hari ikut terganggu.
Salah satu tanggapan datang dari akun X @mintandmorrow.
Akun tersebut mengkritik pendekatan yang dianggap lebih menekankan kemampuan warga bertahan menghadapi asap daripada penanganan terhadap dugaan pelanggaran lingkungan.
“Rakyat disuruh mengurung diri melawan racun asap, sementara korporasi perusak lahan tak tersentuh. Warga megap-megap, pemerintah cuma kasih imbauan. Rakyat disuruh bertahan, pelaku dibiarkan. Negara hadir buat siapa?” tulis akun tersebut.
Komentar itu menyoroti tuntutan agar perlindungan kesehatan masyarakat berjalan beriringan dengan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab atas kebakaran atau kerusakan lingkungan.
Namun, tudingan mengenai pihak yang bertanggung jawab tetap memerlukan pembuktian.
Keluhan lain disampaikan akun @akusukasklipete.
Ia mempertanyakan efektivitas anjuran tetap berada di dalam rumah apabila asap masih bisa masuk ke ruang tempat warga beraktivitas.
“Ih bodoh banget, asepnya kan masuk rumah bodoh!!!!” tulis akun tersebut.
Sementara itu, akun @ferifrendi mempertanyakan cara pemerintah menyampaikan pesan kepada masyarakat yang sedang menghadapi persoalan kabut asap.



