HOLOPIS.COM, JAKARTA – Iran mengungkap sejumlah syarat yang disampaikan kepada Amerika Serikat untuk melanjutkan proses diplomatik antara kedua negara. Salah satu isu paling krusial adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang terganggu akibat konflik dan berdampak pada lalu lintas energi global.
Syarat tersebut disampaikan dalam komunikasi yang berlangsung melalui mediasi Qatar di sela-sela Sidang Umum PBB di New York. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyampaikan posisi Tehran terkait Hormuz kepada utusan khusus AS Steve Witkoff.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan, pertukaran pesan dan klarifikasi dengan pihak AS berlangsung sekitar dua jam melalui perantara Qatar.
“Dalam proses interaksi [dengan perwakilan AS] yang berlangsung sekitar dua jam, persyaratan untuk melanjutkan diplomasi yang tidak menyisakan keraguan atau ambiguitas telah disampaikan kepada pihak Amerika,” tulis Baghaei di X yang dikutip Holopis.com, Kamis (24/9/2026).
Menurut Baghaei, sejumlah tuntutan Iran mencakup pencabutan blokade laut, penghentian tindakan militer AS terhadap Iran, penghentian apa yang disebut Tehran sebagai “terorisme ekonomi”, serta penghentian perang di seluruh front.
Iran juga meminta aset-asetnya yang diblokir dibuka kembali dan adanya pengakuan terhadap jalur aman di Selat Hormuz yang sebelumnya disepakati dengan Oman.
Selat Hormuz Jadi Titik Penting
Selat Hormuz menjadi salah satu isu utama dalam komunikasi kedua negara.
Iran sebelumnya menyatakan bersedia membuka kembali jalur tersebut jika AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Reuters melaporkan kedua pihak juga membahas kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut AS dalam komunikasi tidak langsung tersebut. Namun, pejabat Iran mengatakan posisi Tehran dan Washington masih berjauhan mengenai cara mengakhiri konflik.
Konflik antara Iran dengan AS dan Israel bermula pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Serangan tersebut kemudian dibalas Iran.
Pada pertengahan Juni, Tehran dan Washington sempat menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan. Namun, konflik kembali berlanjut dan hingga kini belum terselesaikan.
Di tengah konflik tersebut, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz mengalami gangguan besar. Kondisi ini ikut memengaruhi distribusi minyak, produk minyak bumi dan gas alam cair, sehingga turut memberikan tekanan terhadap harga energi global.
Diplomasi Masih Berjalan
Pertemuan atau komunikasi melalui mediator Qatar ini menjadi salah satu kontak diplomatik terbaru antara Tehran dan Washington di tengah konflik.
Reuters melaporkan kedua pihak masih memiliki perbedaan besar mengenai cara mengakhiri perang, meski proses diplomasi dinilai masih perlu dilanjutkan.
Dengan Selat Hormuz, blokade, aset Iran, dan penghentian konflik masuk dalam pembahasan, perkembangan diplomasi Iran-AS kini tidak hanya menyangkut hubungan kedua negara, tetapi juga berpotensi berdampak pada jalur perdagangan dan energi dunia.



