Ragam kerajinan seperti anyaman rotan dan ornamen kayu dapat menjadi produk bernilai tinggi apabila dikembangkan dengan pendekatan yang lebih modern.
Karena itu, modernisasi tidak hanya diperlukan pada produk akhir.
Pengelolaan usaha, rantai pasok, pemasaran, hingga proses produksi juga perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Potensi industri kriya Indonesia tercermin dari kinerja perdagangan luar negeri.
Ekspor produk kriya dan dekorasi rumah Indonesia tercatat mampu bertahan di atas USD1 miliar sejak 2022.
Pada 2025, nilai ekspornya mencapai USD1,26 miliar.
Memasuki awal 2026, ekspor telah mencapai USD821 juta atau tumbuh 6,8 persen.
Tidak hanya pasar Amerika Serikat dan Eropa, peluang juga terbuka semakin lebar di kawasan Asia.
Ekspor ke Thailand tercatat mengalami pertumbuhan 81,8 persen, sedangkan pengiriman ke Jepang meningkat 28,5 persen.
Angka tersebut memperlihatkan masih terbukanya ruang ekspansi bagi produk kriya Indonesia, terutama jika pelaku usaha mampu meningkatkan mutu sekaligus mengikuti persyaratan pasar tujuan.
Mendag Busan mengatakan pengembangan sektor kriya juga sejalan dengan tiga agenda utama Kementerian Perdagangan pada 2026, yakni Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, serta Dari Lokal untuk Global.
Dalam konteks tersebut, Inacraft menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan perajin dengan calon pembeli dan memperluas jejaring bisnis.
Pameran ini juga memberikan ruang bagi UMKM, eksportir, dan wirausaha muda atau youthpreneurs untuk memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas.



