HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pasar global kian menuntut produk inovatif dan berkelanjutan. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso (Busan) pun mendorong kriya RI menggabungkan teknologi dengan kearifan lokal.
Dunia kerajinan Indonesia tengah didorong untuk naik level.
Bukan hanya mempertahankan sentuhan budaya, pelaku usaha kriya kini dituntut mampu memanfaatkan teknologi agar produknya semakin kuat menghadapi persaingan pasar internasional.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso saat membuka The Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) Vol. 5 October 2026 Youthpreneurs di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Mengangkat tema “Techno Craft”, Inacraft 2026 menempatkan teknologi sebagai bagian penting dalam pengembangan industri kriya.
Bagi Mendag Busan, kemajuan teknologi bukan alasan untuk meninggalkan karakter budaya Indonesia.
Sebaliknya, teknologi dapat digunakan untuk memperkuat nilai produk yang berasal dari kekayaan lokal.
Perubahan tren konsumen menjadi salah satu alasan utama transformasi tersebut diperlukan.
Pembeli dari pasar global kini semakin memperhatikan bagaimana sebuah produk dibuat, dari mana bahan bakunya berasal, hingga sejauh mana proses produksinya memperhatikan aspek lingkungan dan etika.
Selain itu, pelaku industri juga menghadapi perubahan akibat dinamika geopolitik, perkembangan ekonomi hijau, kecerdasan artifisial, dan otomatisasi.
Kondisi tersebut membuat strategi lama tidak lagi cukup.
Produk kriya Indonesia dinilai harus mampu menawarkan kombinasi antara identitas budaya, kualitas, inovasi, dan kemampuan mengikuti kebutuhan pasar.
Mendag Busan menilai kekuatan utama Indonesia justru berada pada kekayaan budaya Nusantara yang sulit ditiru negara lain.



