JAKARTA, HOLOPIS.COM – Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Iman Zanatul Haeri ngelus dada setelah Badan Gizi Nasional (BGN) mengaktifkan lagi SPPG Gowa Pattallassang 2 setelah menyebut biang kerok keracunan MBG adalah karena tempat cuci tangan siswa.
Ia memandang bahwa sekolah akan menjadi tempat yang paling dipersalahkan ketika ada kasus keracunan MBG. Sementara menurutnya, Badan Gizi Nasional (BGN) tidak akan mau mempersalahkan diri mereka sendiri terhadap pelbagai kasus keracunan yang terjadi.
“Memang sekolah di desain untung pelaksanaan makan dalam skala besar? Untuk kesekian kalinya guru dan sekolah disalahkan. BGN bisa menyalahkan siapapun kecuali dirinya sendiri,” kata Iman, Selasa (29/9/2026).
Diketahui, bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) mencabut pemberhentian operasional sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gowa Pattallassang 2 setelah hasil uji laboratorium menyatakan seluruh sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) layak konsumsi.
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan sampel makanan yang diuji tidak mengandung bahan berbahaya atau beracun.
“Bahwa hasil pengujian mikrobiologi, seluruh sampel makanan yang diuji di laboratorium dinyatakan layak konsumsi dan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya atau beracun,” kata Ketut dalam pernyataan yang diunggah melalui akun Instagram resmi BGN, Minggu (27/9).
Ketut mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan teknis, sumber bakteri dalam kejadian tersebut teridentifikasi berasal dari fasilitas tempat cuci tangan di sekolah sebelum makan.
Pada kejadian 24 September 2026, sebanyak 11 dari total 2.660 penerima manfaat di SPPG Gowa Pattallassang 2 dilaporkan mengalami gangguan pencernaan.
“Sumber bakteri tersebut dinyatakan berdasarkan hasil pemeriksaan dari tempat cuci tangan sekolah sebelum makan anak-anak. Sehingga pada saat kejadian terdapat 11 dari total 2.660 penerima manfaat mengalami gangguan pencernaan,” ujarnya.



