JAKARTA, HOLOPIS.COM – Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan, Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid, menilai Presiden Prabowo Subianto menunjukkan keberpihakan yang lebih kuat kepada kalangan buruh dibandingkan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Penilaian tersebut didasarkan pada sikap dan pendekatan yang ditunjukkan Prabowo dalam momentum Hari Buruh Internasional yang dinilai lebih terbuka dan partisipatif.
Menurut Habib Syakur, kehadiran langsung seorang presiden dalam peringatan May Day bukan sekadar simbol, melainkan bentuk pengakuan negara terhadap peran strategis buruh dalam pembangunan nasional. Ia menilai kehadiran tersebut memiliki makna politis dan sosial yang kuat karena menunjukkan kesediaan pemimpin negara untuk mendengar langsung aspirasi pekerja.
“Kami melihat Presiden Prabowo Subianto menunjukkan keberpihakan yang lebih nyata kepada buruh. Beliau hadir langsung dalam peringatan May Day, bahkan hingga dua kali, dan itu bukan sekadar seremonial, tetapi bentuk komunikasi langsung dengan para pekerja,” kata Habib Syakur, Sabtu (2/5/2026).
Secara tidak langsung, ia membandingkan pendekatan tersebut dengan kepemimpinan Jokowi yang dinilai cenderung menjaga jarak dari momentum peringatan Hari Buruh. Menurutnya, pada masa pemerintahan sebelumnya, dialog langsung antara presiden dan buruh dalam forum May Day tidak menjadi praktik yang rutin dilakukan.
“Kalau kita bandingkan, pada masa Presiden Jokowi, kehadiran dalam forum May Day relatif minim. Bahkan cenderung menghindari forum besar seperti ini untuk berdialog langsung dengan buruh,” ujarnya.
Habib Syakur menilai bahwa absennya pemimpin dalam momentum penting seperti May Day berpotensi menciptakan jarak antara pemerintah dan kelompok pekerja. Padahal, menurutnya, Hari Buruh merupakan salah satu ruang paling strategis untuk menyerap aspirasi secara langsung dari akar rumput.
Ia menegaskan bahwa kehadiran fisik seorang presiden di tengah massa buruh memiliki dampak psikologis yang besar. Buruh, kata dia, merasa diakui dan dihargai ketika pemimpin tertinggi negara hadir dan mendengarkan secara langsung keluhan serta harapan mereka.
“Buruh itu tidak hanya butuh kebijakan, tetapi juga butuh didengar. Kehadiran Presiden di tengah mereka adalah bentuk pengakuan bahwa suara mereka penting dalam pembangunan bangsa,” tandasnya.
Lebih lanjut, Habib Syakur mengapresiasi pendekatan Prabowo yang dinilai merangkul seluruh elemen buruh tanpa membedakan latar belakang organisasi atau sektor pekerjaan. Ia melihat adanya upaya membangun komunikasi yang inklusif dan tidak eksklusif dalam hubungan industrial.
“Yang kami lihat, Pak Prabowo tidak memilih-milih. Semua buruh dirangkul, semua diajak berdialog. Ini pendekatan yang lebih inklusif dan mencerminkan kepemimpinan yang terbuka,” ucap Habib Syakur.
Menurutnya, pendekatan seperti ini penting dalam menciptakan stabilitas sosial dan ekonomi. Dengan membuka ruang dialog yang luas, potensi konflik antara pekerja dan pemerintah dapat diminimalkan, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap negara.

Habib Syakur juga menilai bahwa momentum May Day seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ajang penyampaian tuntutan, tetapi juga sebagai ruang konsolidasi antara pemerintah dan buruh. Dalam konteks ini, kehadiran Presiden Prabowo dinilai sebagai langkah maju dalam membangun hubungan industrial yang lebih sehat.
“May Day itu bukan hanya panggung tuntutan, tetapi juga ruang dialog. Ketika Presiden hadir, itu berarti negara hadir untuk mendengar dan mencari solusi bersama,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa komunikasi langsung antara presiden dan buruh dapat mempercepat proses pengambilan kebijakan yang lebih tepat sasaran. Aspirasi yang disampaikan secara langsung dinilai lebih autentik dibandingkan laporan birokratis yang sering kali terdistorsi.
Di sisi lain, Habib Syakur juga mengingatkan bahwa keberpihakan kepada buruh tidak cukup hanya ditunjukkan melalui kehadiran dalam acara seremonial. Ia menegaskan bahwa langkah tersebut harus diikuti dengan kebijakan konkret yang benar-benar berpihak pada kesejahteraan pekerja.
“Kehadiran itu penting, tetapi yang lebih penting adalah tindak lanjutnya. Kebijakan yang lahir harus benar-benar menjawab kebutuhan buruh, bukan sekadar janji,” tukas Habib Syakur.
Namun demikian, ia tetap menilai bahwa kehadiran langsung presiden merupakan langkah awal yang signifikan dalam membangun komunikasi yang lebih baik. Menurutnya, pendekatan ini dapat menjadi fondasi bagi lahirnya kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan pekerja.
Habib Syakur juga menyoroti pentingnya membangun tradisi baru dalam pemerintahan, di mana pemimpin negara tidak hanya hadir dalam forum-forum formal, tetapi juga aktif turun langsung ke lapangan untuk mendengarkan aspirasi masyarakat.
Ia menilai bahwa gaya kepemimpinan yang lebih dekat dengan rakyat akan memperkuat legitimasi pemerintah sekaligus meningkatkan kualitas demokrasi.
“Kita butuh pemimpin yang tidak hanya bekerja dari balik meja, tetapi juga hadir di tengah rakyat. Itu yang kami lihat mulai ditunjukkan oleh Presiden Prabowo,” ungkap Habib Syakur yang juga ulama asal Malang Raya itu.
Lebih jauh, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk mendukung upaya membangun komunikasi yang lebih terbuka antara pemerintah dan buruh. Menurutnya, hubungan yang harmonis antara kedua pihak merupakan kunci bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Habib Syakur juga berharap agar momentum May Day ke depan dapat terus dimanfaatkan sebagai ruang dialog yang konstruktif, bukan sekadar ajang mobilisasi massa. Ia menekankan pentingnya menjaga suasana yang kondusif agar aspirasi dapat tersampaikan dengan baik.
“Kita ingin May Day menjadi ruang yang produktif, bukan hanya demonstrasi, tetapi juga dialog yang menghasilkan solusi nyata bagi buruh,” serunya.
Di akhir pernyataannya, ia kembali menegaskan bahwa keberpihakan terhadap buruh harus menjadi komitmen bersama, tidak hanya pemerintah, tetapi juga dunia usaha dan seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, buruh merupakan pilar utama dalam pembangunan ekonomi, sehingga kesejahteraan mereka harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan.
Dengan berbagai penilaian tersebut, Habib Syakur menyimpulkan bahwa pendekatan yang ditunjukkan Presiden Prabowo dalam momentum May Day menjadi sinyal positif bagi masa depan hubungan antara pemerintah dan kalangan buruh di Indonesia.
“Kalau kita ingin ekonomi kuat, maka buruh harus sejahtera. Dan untuk itu, pemerintah harus benar-benar hadir, mendengar, dan bertindak,” pungkas Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid.



