“Berdemonstrasi adalah hak. Membakar kota-kota kita bukanlah hak,” tulis Meloni di media sosial X. Ia menuding sejumlah perusuh memanfaatkan demonstrasi untuk menciptakan kekacauan.
Wali Kota Milan Giuseppe Sala mengatakan alasan di balik demonstrasi dapat dipahami, tetapi kekerasan terhadap aparat dan kerusakan serius terhadap kota tidak dapat dibenarkan.
Di Bologna, polisi juga melaporkan adanya bentrokan dan aksi pelemparan batu di tengah demonstrasi yang sebagian berlangsung damai.
Gelombang Protes Berpotensi Meluas
Meski demonstrasi di negara lain tidak mencapai skala yang sama dengan aksi di Prancis, sejumlah pengamat menilai gelombang protes tersebut dapat mencerminkan meluasnya ketidakpuasan masyarakat Eropa.
Profesor hukum dan kebijakan Uni Eropa di HEC Paris Business School, Alberto Alemanno, mengatakan Prancis menjadi pusat gerakan tersebut, tetapi terdapat tanda-tanda bahwa protes mulai menyebar ke negara lain.
Menurut Alemanno, demonstrasi pada Sabtu kemungkinan bukan aksi terakhir di sejumlah negara. Ia juga memperkirakan Yunani, Jerman, dan Austria mulai menunjukkan tahap awal mobilisasi yang berpotensi berkembang dalam pekan berikutnya.
Ia menegaskan bahwa berbagai aksi tersebut bukan satu gerakan tunggal yang terkoordinasi. Meski demikian, terdapat sejumlah persoalan yang sama, seperti pendanaan pendidikan yang dinilai tidak memadai, kenaikan biaya hidup, serta ketidakpastian masa depan mahasiswa setelah lulus.
Gelombang demonstrasi ini juga berlangsung menjelang periode politik penting di Eropa. Dalam 12 bulan mendatang, sejumlah negara, termasuk Spanyol, Prancis, Italia, dan Polandia, dijadwalkan menggelar pemilihan nasional.
Alemanno menilai berbagai demonstrasi dan mobilisasi masyarakat tersebut berpotensi menjadi salah satu isu utama dalam perdebatan politik Eropa menjelang rangkaian pemilihan tersebut.



