Darurat Sampah di Pasar Induk Kramat Jati: DLH DKI Turun Tangan, Pengelola Disorot

0 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Tumpukan sampah yang menggunung di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur jadi sorotan publik. Pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta pun merespons cepat.

Jajaran DLH DKI Jakarta turun langsung membantu pengangkutan selama tiga hari berturut-turut. Langkah ini diambil untuk meredam dampak lingkungan dan kesehatan yang mulai dirasakan pedagang dan masyarakat sekitar.

Sejak Jumat hingga Minggu (27–29 Maret 2026), puluhan armada dikerahkan untuk mengurai penumpukan sampah di kawasan pasar terbesar di Jakarta tersebut.

“Selama tiga hari, kami membantu pengangkutan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, sejak Jumat (27/3) hingga Minggu (29/3), sebagai langkah darurat untuk mengurai penumpukan sampah di kawasan pasar tersebut,” kata Kepala Satuan Pelaksana Lingkungan Hidup Kecamatan Kramat Jati, Dwi Firmansyah, Senin, (30/3/2026).

Menurut dia, setiap hari ada sekitar 20 truk disiagakan untuk mengangkut sampah menuju TPST Bantar Gebang.

Meski turun tangan, Dwi menekankan intervensi ini bersifat sementara. Pengelolaan sampah di kawasan pasar tetap menjadi tanggung jawab pengelola, yakni Perumda Pasar Jaya.

“Kami tidak bisa membersihkan sampai tuntas karena ini bukan sampah liar. Ada pihak yang bertanggung jawab sebagai penghasil sampah,” jelas Dwi.

Ia juga menambahkan bahwa pemerintah tak memiliki kewenangan penuh untuk menangani sampah di kawasan komersial.

Upaya pengangkutan juga terkendala keterbatasan kuota pembuangan ke Bantar Gebang. Sebab, Kecamatan Kramat Jati hanya mendapat jatah 16 truk per hari, sehingga prioritas diberikan untuk sampah permukiman warga.

“Prioritas kami tetap sampah warga. Untuk kawasan komersial, seharusnya sudah memiliki sistem pengelolaan sendiri,” ujarnya.

Di sisi lain, pengelola pasar mengakui kapasitas pengelolaan sampah masih jauh dari cukup. Produksi sampah harian di pasar ini mencapai 150–200 ton.

Manajer Pasar Induk Kramatjati, Agus Lamun, menyebut berbagai upaya telah dilakukan. Hal itu termasuk pengolahan sampah organik menjadi kompos sekitar satu ton per hari.

“Kami berharap selama masa transisi ini, tetap ada dukungan dari Dinas LH, sampai sistem pengelolaan mandiri kami berjalan optimal,” tutur Agus.

Namun, angka tersebut masih belum mampu mengimbangi volume sampah yang terus bertambah setiap hari.

Kondisi tumpukan sampah jadi sorotan karena dikeluhkan pedagang dan masyarakat sekitar. Bau menyengat dan akses jalan yang menyempit akibat tumpukan sampah menjadi keluhan utama.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Dani Yoga
Tim Penulis & Editor
Dani Yoga
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU