Bang Jali Ajak Warga Sawah Besar Terapkan Green Policing, dari Pilah Sampah hingga Pemberdayaan Ekonomi

Imam Basori alias Ibas mengusung Bang Jali (Bareng Jaga Lingkungan) dengan semangat narasi sederhana namun sangat bernas; sampah terpilah, lingkungan terjaga, warga berdaya.

1 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Inovator Bareng Jaga Lingkungan (Bang Jali), Iptu Imam Basori atau akrab disapa Ibas, mengajak masyarakat di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat, memperkuat kepedulian terhadap lingkungan melalui aksi nyata, mulai dari memilah sampah rumah tangga hingga mengembangkan kebiasaan hidup bersih dan sehat.

Ibas yang merupakan perwira Baintelkam Polri sekaligus penggerak inovasi Bang Jali menekankan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau petugas kebersihan, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.

Melalui pendekatan Green Policing, Ketua RT 11 RT 07 Gandaria Utara tersebut mendorong edukasi, pencegahan, dan kolaborasi warga sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan yang aman, bersih, dan berkelanjutan.

“Menjaga lingkungan bukan hanya tugas petugas kebersihan atau pemerintah. Ini tanggung jawab kita bersama. Saya ingin mengajak warga mulai dari hal sederhana, seperti memilah sampah dari rumah, mengolah sampah organik, dan mengurangi sampah anorganik. Kalau dilakukan bersama-sama, dampaknya akan luar biasa,” ujar Ibas.

Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci agar program lingkungan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi kebiasaan sehari-hari.

Bang Jali Integrasikan Empat Pilar

Bang Jali dikembangkan sebagai gerakan inovasi berbasis masyarakat yang mengintegrasikan empat pilar, yakni keamanan, lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi.

Pada pilar keamanan, sejumlah inovasi diperkenalkan untuk membantu warga meningkatkan keamanan lingkungan melalui kolaborasi dan pemanfaatan teknologi. Inovasi tersebut meliputi e-Gate 11, CCTV yang terhubung dengan ponsel, GPS 11, Alarm Panic Button, Si Jaga Warga, dan Patrolink.

Sementara itu, pilar lingkungan berfokus pada pengelolaan sampah dan pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai guna.

Melalui program Komling atau Kompos Keliling, warga diajak mengumpulkan sampah organik untuk diolah menjadi kompos. Program KOMA atau Komposter Mandiri menyediakan pendekatan pengolahan sampah organik rumah tangga, sedangkan Smart Geprek membantu memadatkan botol plastik dan kaleng agar lebih mudah ditangani.

Ibas menegaskan, sampah perlu dipandang sebagai material yang dapat dikelola, bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang.

“Jangan langsung melihat sampah sebagai sesuatu yang tidak berguna. Sampah organik bisa menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik yang dipilah dengan benar bisa masuk ke rantai daur ulang. Kuncinya adalah perubahan kebiasaan dan konsistensi,” jelasnya.

Pendidikan Lingkungan Dikemas Lewat Pembelajaran Bahasa Inggris

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Muhammad Ibnu Idris
Apresiasi untuk Muhammad Ibnu Idris

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
1 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKMIklan: Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--
YANG BARU