Bang Jali juga mengembangkan pilar pendidikan melalui program RT Inggris atau Erte English, yang dikenal pula sebagai Eleven Fun Speaking. Program ini menghadirkan pembelajaran bahasa Inggris yang dekat dengan aktivitas sehari-hari dan terbuka bagi anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.
Dalam pelaksanaannya, edukasi lingkungan turut diintegrasikan ke dalam proses belajar. Warga tidak hanya diperkenalkan pada kosakata bahasa Inggris, tetapi juga diajak memahami pengelolaan sampah melalui praktik sederhana.
Mr One, yang turut menjelaskan pendekatan pembelajaran tersebut, mengatakan kegiatan sehari-hari dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan berbahasa sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Belajar bahasa Inggris tidak harus selalu di dalam kelas. Kita bisa belajar dari aktivitas sehari-hari, termasuk saat memilah sampah. Misalnya, mengenalkan kosakata organic waste, plastic waste, recycle, dan compost. Jadi, warga belajar bahasa sekaligus memahami cara menjaga lingkungan,” ujar Mr One.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat pembelajaran lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh berbagai kelompok masyarakat.
Adapun pilar keempat, yaitu ekonomi, dikembangkan melalui RT11Mart yang mendorong aktivitas ekonomi berbasis komunitas dan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Melalui pilar ini, Bang Jali berupaya menghubungkan lingkungan yang tertata dengan penguatan ekonomi lokal, sehingga kegiatan sosial dan kepedulian lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan warga.
Green Policing Dimulai dari Kebiasaan Warga
Ibas menilai keberhasilan inovasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau banyaknya program yang dibuat. Faktor terpenting adalah keterlibatan masyarakat dalam menjalankan dan menjaga keberlanjutan program tersebut.
Karena itu, pendekatan langsung kepada warga diperlukan untuk memahami kebutuhan lingkungan, bertukar pengalaman, serta mengembangkan solusi yang sesuai dengan kondisi setempat.
“Semangat Green Policing harus bisa dirasakan masyarakat melalui tindakan nyata. Kita mulai dari edukasi, memberikan contoh, membangun kolaborasi, lalu mengajak warga bergerak bersama. Tidak perlu menunggu program besar untuk peduli lingkungan. Mulailah dari rumah sendiri,” tegasnya.
Ia berharap gerakan Bang Jali dapat menginspirasi wilayah lain untuk mengembangkan inovasi serupa sesuai kebutuhan dan karakteristik masyarakat masing-masing.
Menurut Ibas, keberhasilan gerakan lingkungan tidak cukup diukur dari berkurangnya volume sampah. Peningkatan kesadaran, partisipasi warga, serta terbentuknya kebiasaan baru yang berkelanjutan juga menjadi indikator penting.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...