HOLOPIS.COM, MALANG – Lima mahasiswa Universitas Brawijaya meneliti ritual pesugihan di Gunung Kawi. Temuannya memicu polemik dan bantahan.
Gunung Kawi selama ini lekat dengan cerita mistis dan ritual pesugihan.
Namun, lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang justru mencoba membedah fenomena tersebut dari sisi ilmiah.
Hasilnya bikin heboh, lewat tim bernama Artha Kawi, para mahasiswa meneliti hubungan antara ritual pesugihan yang mereka temui di kawasan Gunung Kawi, Jawa Timur, dengan kondisi kesehatan mental pelakunya.
Riset bertajuk “Artha Kawi: Kawi’s Local Culture and Mental Disorder” itu menjadi bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Dalam penelitian, mahasiswa mewawancarai sejumlah informan yang memiliki pengalaman terkait ritual di Gunung Kawi.
Sejumlah informan mengaku mengalami pengalaman yang sulit dijelaskan, mulai dari mendengar suara hingga melihat sosok yang tidak dilihat orang lain.
Temuan inilah yang kemudian menjadi sorotan.
Tim Artha Kawi menemukan adanya keterkaitan antara praktik ritual yang mereka teliti dengan kecenderungan gangguan mental, khususnya psikosis, pada sebagian pelaku dan orang terdekatnya.
“Secara general hasil yang kami dapatkan adalah beberapa orang pelaku pesugihan Gunung Kawi dan orang terdekatnya yakni terdapat keterkaitan antara praktik pesugihan Gunung Kawi dengan kecenderungan mental disorder khususnya Psikosis pada pelaku pesugihan Gunung Kawi,” ujar peneliti Harun Rasyid.
Namun, temuan tersebut bukan berarti setiap orang yang percaya hal mistis atau berziarah ke Gunung Kawi mengalami gangguan mental.
Para peneliti sendiri menekankan bahwa yang ditemukan adalah keterkaitan, bukan kesimpulan bahwa ritual tersebut secara langsung menyebabkan psikosis.
Diagnosis psikosis juga tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan penelitian mahasiswa.


