HOLOPIS.COM, SURABAYA – Jepang mulai menggarap proyek KRL Surabaya-Sidoarjo. Simak bocoran lengkap rute, pembangunan depo, elektrifikasi, hingga target operasi 2030.
Proyek Kereta Rel Listrik (KRL) Surabaya-Sidoarjo mulai menunjukkan perkembangan signifikan.
Pemerintah bersama konsultan asal Jepang, Chodai, kini tengah menyusun Detail Engineering Design (DED) sebagai tahap penting sebelum pembangunan fisik dimulai.
Proyek yang dikenal sebagai Surabaya Regional Railway Line (SRRL) tersebut merupakan kerja sama Kementerian Perhubungan dengan lembaga pembiayaan Jerman KfW.
Kehadiran konsultan Jepang dalam penyusunan DED menjadi sorotan karena diharapkan mampu menghadirkan sistem transportasi rel modern yang terintegrasi di kawasan Surabaya Raya.
Perkembangan terbaru itu dibahas dalam rapat koordinasi antara Chodai, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) melalui Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya, serta PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 8 Surabaya.
Kepala BTP Kelas I Surabaya DJKA, Denny Michels Adlan, mengatakan penyusunan DED menjadi tahapan krusial karena masih terdapat sejumlah tantangan teknis yang harus diselesaikan sebelum proyek memasuki tahap konstruksi.
Salah satu perhatian utama adalah rencana pembangunan depo kereta di kawasan Sidotopo, termasuk rekayasa lalu lintas dan peningkatan keselamatan pada sejumlah perlintasan sebidang.
Menurut Denny, proyek ini juga membutuhkan koordinasi lintas instansi karena diperkirakan akan menimbulkan dampak sosial bagi masyarakat, terutama pada pembangunan SRRL Fase I-B.
Karena itu, pemerintah membuka peluang melibatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun Pemerintah Kota Surabaya untuk membahas langkah-langkah penanganan terhadap warga yang terdampak proyek.
Selain persoalan sosial, penyusunan DED juga mencakup evaluasi terhadap infrastruktur perkeretaapian yang sudah ada.
Sejumlah jembatan kereta api, jalur rel, hingga stasiun diperkirakan akan mengalami penyesuaian agar dapat mendukung operasional KRL di masa mendatang.
Denny menegaskan seluruh perubahan harus dirancang secara matang agar tidak mengganggu perjalanan kereta api yang saat ini sudah beroperasi.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah perlintasan sebidang di Jalan Jagir Wonokromo.
Kajian akan menghitung potensi kemacetan akibat meningkatnya frekuensi perjalanan kereta setelah SRRL beroperasi.
Hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi Pemerintah Kota Surabaya dalam menyiapkan pembangunan infrastruktur pendukung.
Proyek KRL Surabaya-Sidoarjo juga dirancang terintegrasi dengan sejumlah pembangunan lain, seperti Flyover Taman Pelangi dan Flyover Gedangan, sehingga diharapkan mampu mengurangi kepadatan lalu lintas sekaligus meningkatkan konektivitas antarkawasan.
Sementara itu, Executive Vice President PT KAI Daop 8 Surabaya Daniel Johannes Hutabarat menyatakan dukungan penuh terhadap proyek tersebut.
Menurutnya, kehadiran SRRL akan menjadi lompatan besar bagi sistem transportasi publik di Surabaya dan wilayah sekitarnya.
Ia memastikan PT KAI siap memberikan dukungan sesuai kebutuhan agar proses pembangunan berjalan lancar hingga proyek dapat direalisasikan.
SRRL sendiri merupakan proyek transportasi massal berbasis rel yang mencakup pembangunan jalur ganda sekaligus elektrifikasi lintas Surabaya-Sidoarjo.
Kehadiran KRL diharapkan mampu meningkatkan kapasitas angkutan penumpang, mempercepat waktu tempuh, serta mengurangi kemacetan di kawasan metropolitan Surabaya.
Saat ini, SRRL Fase I-A yang menghubungkan Stasiun Surabaya Gubeng dengan Sidoarjo masih berada pada tahap penyusunan DED.
Pemerintah menargetkan jalur tersebut dapat beroperasi penuh pada 2030.
Apabila seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, KRL Surabaya-Sidoarjo akan menjadi salah satu moda transportasi massal modern pertama di Jawa Timur yang diharapkan mampu mendorong mobilitas masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan Surabaya Raya.


