HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak hanya lahir dari tekanan militer atau negosiasi langsung. Di balik layar, muncul satu aktor global yang dinilai memainkan peran penting namun cenderung senyap yakni China.
Meski tidak tampil sebagai mediator utama seperti Pakistan, sejumlah laporan media internasional menunjukkan peran Beijing untuk mendorong Teheran kembali ke meja perundingan.
Bahkan, Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengakui peran China dalam membantu negosiasi dengan Iran.
“Saya dengar, ya,” kata Trump dikutip dari Hindustan Times, Rabu, (8/4/2026).
Sebelum gencatan senjata tercapai, situasi berada di titik kritis. AS bersiap melancarkan serangan besar ke infrastruktur vital energi Iran. Sementara, Iran mengancam menutup Selat Hormuz, jalur vital energi dunia.
Dari laporan Al Arabiya, saat fase genting, China mengambil pendekatan berbeda. Beijing
sengaja tak ikut konflik militer. China juga tak tampil agresif secara terbuka tapi aktif mendorong dialog dan de-eskalasi
Pemerintah China juga berulang kali menyampaikan secara konsisten agar semua pihak memanfaatkan peluang perdamaian dan melanjutkan dialog.
Peran China semakin terlihat dalam koordinasi dengan Pakistan yang menjadi mediator utama. China dan Pakistan sebelumnya mengajukan inisiatif bersama berisi seruan gencatan senjata dan pembukaan jalur Hormuz
Beijing memberi dukungan politik terhadap upaya Islamabad sebagai mediator negosiasi AS-Iran.
Tekanan diplomatik itu membantu membentuk kerangka kesepakatan. Dalam proposal yang berkembang menjadi ‘Islamabad Accord’, China disebut sebagai bagian dari jaringan negara yang aktif mendorong solusi damai.
Adapun China memiliki kepentingan besar dalam konflik ini, terutama terkait energi dan stabilitas global. Status Iran sebagai salah satu pemasok minyak utama China. Selat Hormuz adalah jalur vital perdagangan global. Sebab, konflik berkepanjangan bisa memicu krisis ekonomi global


