HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perasaan mati rasa merupakan kondisi ketika seseorang merasa kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi, baik itu senang, sedih, marah, maupun antusias. Kondisi ini bukan berarti seseorang tidak peduli, tetapi dapat menjadi tanda bahwa pikiran sedang berusaha melindungi diri dari tekanan emosional yang berlebihan.
Dikutip dari Cleveland Clinic, seorang Psikolog Susan Alberls, PsyD menjelaskan bahwa mati rasa biasanya muncul sebagai bentuk respons alami tubuh saat menghadapi stres intens, trauma, atau kelelahan mental yang berlangsung lama.
“Ini adalah mekanisme perlindungan, seperti pikiran Anda menekan tombol jeda,” kata Albers dikutip Holopis.com, Jumat (31/10/2025).
Pada beberapa kasus, seseorang dapat merasakan mati rasa setelah mengalami peristiwa besar, seperti kehilangan orang terdekat atau kejadian yang mengguncang mental. Otak secara otomatis menahan respons emosional agar tidak muncul sekaligus, sehingga seseorang merasakan kekosongan dalam hidup yang sedang dijalani.
Albers menjelaskan bahwa perasaan tersebut muncul karena seseorang sedang berusaha memproses situasi atau peristiwa yang berat, sehingga emosi yang dirasakannya ditahan sementara.
Adapun perasaan mati rasa dijelaskan Albers dapat juga disebabkan oleh-hal sebagai berikut:
Trauma
Ketika mengalami situasi atau kejadian yang traumatis, perasaan mati rasa akan muncul sebagai bagian dari respons melawan atau lari dari kejadian yang sedang terjadi. Dengan meredupkan cahaya emosional, otak akan lebih fokus pada apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup, sehingga otakmu tidak akan merasakan apapun dari kejadian traumatis yang dialami.
Emosi yang Intens
Perasaan sedih, marah, atau emosi intens lainnya mampu memicu sistem perlindungan bawaan tubuh. Oleh karena itu, ketika sedang dihadapkan dengan situasi yang dapat memancing emosi intens tersebut kamu akan merasa mati rasa saat mencoba memproses momen tersebut.


