Wartawan senior Edy Mulyadi menyoroti dugaan penyadapan terhadap komunikasi Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya berpotensi berkaitan dengan skenario politik lebih besar, termasuk dugaan upaya mengganti kepala negara sebelum masa jabatannya berakhir.
Edy mengangkat sejumlah klaim yang disampaikan Gema Merdeka Goeyardi dalam sebuah podcast mengenai dugaan operasi penyadapan terhadap Presiden.
Ia menyebut Gema mengaku memiliki informasi kelas A1 mengenai dugaan keterlibatan mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo bersama sejumlah jenderal polisi dalam operasi tersebut.
Tidak hanya menyangkut pihak yang diduga melakukan penyadapan, Gema juga diklaim memaparkan dugaan adanya pihak yang memberikan perintah, membiayai, hingga mengambil keuntungan dari operasi tersebut.
Dalam paparannya, Gema disebut menyebut angka uang muka mencapai Rp25 triliun, sementara total anggaran operasi diperkirakan berkisar Rp50 triliun hingga Rp60 triliun.
Edy menilai klaim mengenai nilai pendanaan tersebut harus ditelusuri secara serius, terutama dengan membuktikan aliran dana, identitas pemberi dan penerima, serta mekanisme transaksi yang digunakan.
“Tentu saja, angka sebesar ini bukan sesuatu yang bisa diterima begitu saja. Harus ada bukti aliran dana, identitas pemberi dana, penerima, serta mekanisme transaksinya,” katab Edy dalam tulisannya yang diterima Holopis.com, Senin (9/11/2026).
Dugaan Skenario Pergantian Presiden
Edy juga menghubungkan paparan Gema dengan wacana yang pernah mencuat pada 2024 mengenai kemungkinan Prabowo hanya menjabat Presiden selama dua tahun, sebelum kemudian digantikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Wacana tersebut sebelumnya disampaikan Connie Rahakundini Bakrie yang mengaku menceritakan percakapannya dengan Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani. Connie menyebut Rosan pernah menyampaikan skenario Prabowo memimpin selama dua tahun dan tiga tahun berikutnya dilanjutkan Gibran.
Namun, Rosan telah membantah pernyataan Connie tersebut.
Edy mempertanyakan apakah wacana itu memiliki keterkaitan dengan dugaan operasi penyadapan yang kini menjadi sorotan. Ia juga menyinggung pernyataan mantan Menteri Koperasi Budi Arie mengenai kemungkinan Prabowo jatuh sebelum 2029 yang menurut paparan Gema menjadi salah satu pemicu terbukanya informasi tersebut.
Meski demikian, Edy mengakui hubungan antara berbagai peristiwa itu belum terbukti. Kesamaan waktu, kepentingan, maupun aktor, menurutnya, tidak otomatis menunjukkan adanya satu komando operasi.
Klaim 6.000 Nomor Telepon Disadap




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!