HOLOPIS.COM, JAKARTA – Politikus PDI Perjuangan Mohamad Guntur Romli mendesak Polri mengusut tuntas dugaan keterlibatan pihak lain di luar para perwira yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Guntur secara khusus menyoroti informasi mengenai dugaan keterlibatan seorang ketua umum partai politik yang disebut-sebut memiliki kedekatan dengan lingkaran Solo.
Ia bahkan mengaitkan isu tersebut dengan istilah “Geng Jokowi” dan meminta penyidik tidak berhenti pada pengungkapan peran sejumlah perwira Polri.
“Ngeri-ngeri Sadap, ada ketum parpol dan mantan Kapolri terlibat kasus penyadapan ilegal Listyo Sigit, ayo bongkar!” tulis Guntur dalam pernyataannya, Sabtu (7/11/2026).
Guntur juga menyinggung pengungkapan mantan Menko Polhukam Mahfud MD mengenai enam perwira Polri yang disebut ditangkap di rumah seorang mantan Kapolri. Menurut Mahfud, lokasi penangkapan tersebut bukan rumah Listyo Sigit Prabowo.
Dalam keterangannya di kanal YouTube, Mahfud menyebut enam perwira yang dimaksud terdiri dari tiga jenderal bintang dua dan tiga perwira berpangkat kombes. Namun, Mahfud belum mengungkap identitas mantan Kapolri yang rumahnya menjadi lokasi penangkapan tersebut.
“Prof Mahfud membuka tabir dalam podcastnya: enam perwira ditangkap di rumah seorang mantan Kapolri, dan itu bukan rumah Listyo. Lalu rumah siapa? Mantan Kapolri mana yang rumahnya jadi markas? Kenapa Polri diam soal lokasi?” ujar Guntur.
Ia turut mengangkat keterangan Mahfud mengenai dugaan aliran produk akhir hasil penyadapan yang disebut mencapai Solo. Informasi tersebut, menurut Guntur, perlu ditelusuri untuk mengetahui siapa penerima dan pihak yang diduga memanfaatkan hasil penyadapan tersebut.
Selain itu, Guntur menyoroti kabar mengenai pertemuan seorang ketua umum partai politik dengan sejumlah jenderal di kawasan Widya Chandra, Jakarta, sekitar tiga jam sebelum penangkapan para perwira Polri.
Informasi mengenai pertemuan itu sebelumnya disampaikan oleh Setiyardi Budiono dari Obor Rakyat Reborn. Ia mengklaim memperoleh informasi dari sejumlah narasumber mengenai adanya rapat koordinasi yang disebut dihadiri belasan jenderal dan seorang ketua umum partai politik.
Guntur meminta Polri tidak membiarkan informasi tersebut menjadi spekulasi berkepanjangan. Ia mendesak penyidik mengungkap lokasi penangkapan enam perwira, memeriksa pertemuan di Widya Chandra, serta menelusuri distribusi hasil penyadapan.
“Polri jangan berhenti di empat jenderal. Umumkan rumah mantan Kapolri itu. Buka isi rapat Widya Chandra. Telusuri ke mana hasil sadapan mengalir. Periksa siapa pun, setinggi apa pun jabatannya,” tegasnya.
Guntur menilai, apabila dugaan keterlibatan ketua umum partai politik dan pihak-pihak di lingkaran Solo benar-benar terbukti, perkara tersebut akan memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar pelanggaran hukum oleh sejumlah aparat.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!