HOLOPIS.COM, JAKARTA – Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai. Pasalnya, kondisi ini tidak selalu menunjukkan gejala yang dapat dirasakan secara langsung oleh penderitanya.
Seseorang bahkan bisa menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa tanpa menyadari bahwa tekanan darahnya sudah berada di atas batas normal. Kondisi inilah yang membuat hipertensi kerap dijuluki sebagai silent killer atau pembunuh senyap.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan gejala tertentu. Padahal, jika tidak dikendalikan, tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, hingga gangguan ginjal.
1. Mengapa Hipertensi Bisa Terjadi Tanpa Gejala dan Apa Bahayanya?
Hipertensi terjadi ketika tekanan darah yang mengalir melalui pembuluh darah berada pada tingkat tinggi secara menetap. Kondisi ini membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
Peningkatan tekanan darah umumnya berlangsung secara bertahap sehingga tubuh dapat beradaptasi. Akibatnya, seseorang mungkin tidak merasakan perubahan fisik meskipun tekanan darahnya sudah berada di atas batas normal.
Hipertensi yang tidak terdeteksi dan tidak ditangani dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, seperti:
- Stroke, akibat kerusakan atau pecahnya pembuluh darah di otak.
- Penyakit jantung, karena jantung terus bekerja lebih keras dalam memompa darah.
- Gangguan ginjal, akibat kerusakan pembuluh darah yang berperan dalam proses penyaringan.
- Gangguan penglihatan, akibat kerusakan pembuluh darah pada retina.
- Gagal jantung, akibat beban kerja jantung yang berlangsung dalam jangka panjang.
Sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko hipertensi, antara lain pertambahan usia, riwayat keluarga, obesitas, konsumsi garam berlebihan, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta pola makan yang tidak sehat.
2. Bagaimana Cara Mendeteksi dan Mencegah Hipertensi?
Karena sering tidak menunjukkan gejala, pemeriksaan tekanan darah menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui kondisi hipertensi secara langsung. Pemeriksaan dapat dilakukan di fasilitas kesehatan maupun menggunakan alat pengukur tekanan darah digital di rumah.
Secara umum, WHO mendefinisikan hipertensi pada orang dewasa sebagai tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan/atau diastolik 90 mmHg atau lebih, berdasarkan pengukuran pada dua hari yang berbeda.
Untuk membantu menjaga tekanan darah tetap terkendali, masyarakat dapat menerapkan sejumlah kebiasaan sehat, seperti:
- Membatasi konsumsi garam dan makanan tinggi natrium.
- Memperbanyak konsumsi buah dan sayuran.
- Melakukan aktivitas fisik secara rutin.
- Menjaga berat badan ideal.
- Menghindari rokok dan konsumsi alkohol.
- Menjaga kualitas tidur serta mengelola stres.
- Memeriksa tekanan darah secara berkala.
Bagi orang yang sudah didiagnosis mengalami hipertensi, pengobatan sesuai anjuran dokter juga penting dilakukan. Jangan menghentikan konsumsi obat hanya karena tekanan darah sudah kembali normal tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.
Hipertensi tidak selalu ditandai dengan pusing, sakit kepala, atau keluhan fisik lainnya. Karena itu, jangan menunggu munculnya gejala untuk memeriksa tekanan darah. Deteksi dini dan pengendalian yang tepat dapat membantu mengurangi risiko komplikasi serius di kemudian hari.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!