Keberagaman tersebut, menurut dia, memberikan banyak pilihan cerita bagi sineas. Medan juga memiliki bangunan bersejarah, Istana Melayu, masjid bersejarah, serta peninggalan budaya dari berbagai komunitas yang dapat menjadi latar produksi film.
Rico menilai, cerita tentang Medan tidak harus selalu berkaitan dengan kehidupan keras. Kisah keluarga, romansa, sejarah, hingga kehidupan masyarakat dari beragam latar belakang juga dapat dikembangkan menjadi film.
Selain budaya dan sejarah, kuliner menjadi potensi lain yang ingin ditawarkan kepada sineas. Rico menilai kekayaan makanan di Medan dapat menjadi sumber cerita yang menarik untuk diangkat ke layar lebar.
“Medan itu 24 hours for food, makanan semua, kulineran semua, gitu. Jadi kalau mengangkat tema kuliner di Kota Medan tuh menarik,” tuturnya.
Ia berharap, eksplorasi terhadap berbagai potensi tersebut dapat memperluas gambaran tentang Medan dalam perfilman nasional sekaligus memperkenalkan identitas kota kepada penonton yang lebih luas.
Siapkan Revitalisasi Taman Budaya Medan
Untuk mendukung perkembangan ekosistem perfilman, Rico juga berkomitmen merevitalisasi Taman Budaya Medan yang telah berusia lebih dari 50 tahun.
Ia mengatakan, tempat tersebut telah melahirkan banyak pelaku seni, termasuk pekerja teater dan perfilman. Namun, fasilitasnya kini dinilai memprihatinkan karena belum pernah direvitalisasi selama lebih dari lima dekade.
“Taman Budaya ini sudah lebih 50 tahun. Jadi tempatnya sudah sangat memprihatinkan,” ujar Rico.
Ia memastikan pemerintah daerah akan mendorong pembenahan fasilitas tersebut agar dapat kembali berfungsi sebagai ruang pengembangan seni dan budaya.
“Saya berkomitmen di nanti di daerah kami membantu, saya pastikan ini kita revitalisasi supaya menjadi tempat inkubasi seni dan budaya dan juga teater film,” katanya.
Rico menilai, penguatan fasilitas kebudayaan penting untuk mendukung pertumbuhan sineas lokal dan meningkatkan jumlah produksi film di Medan. Ia juga berharap kegiatan produksi dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui keterlibatan tenaga kerja dan penggunaan berbagai jasa lokal.
“Kalau misalnya dari industri lokal membuat film di Kota Medan, tentu multiplier effect-nya ke Kota Medan sendiri,” kata Rico.
Ia turut membuka peluang bagi produksi film dari luar negeri untuk melakukan pengambilan gambar di Indonesia. Menurut dia, kegiatan tersebut dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi daerah yang menjadi lokasi produksi.
Rico menegaskan, Pemkot Medan ingin membangun kerja sama dengan pelaku industri perfilman agar potensi daerah dapat berkembang dan dikenal lebih luas.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...