“Jangan sampai justru pengaturan pemerintah yang dimaksudkan baik ini menjadi another lembaga sensor. Itu tidak boleh,” tegasnya.
Ia menambahkan, film merupakan karya seni yang juga dapat menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan. Karena itu, pemerintah perlu memahami batas kewenangannya agar upaya mengembangkan industri perfilman tidak menghambat kreativitas para pembuat film.
“Karena film itu seni, dan seni itu juga identik dengan kritik, maka pemerintah, kita ini tokoh politik, orang pemerintah, juga harus membiasakan dengan kritik, hidup bersama dengan kritik,” tandas Yustinus.
Ke depan, Pemprov DKI menargetkan JFC dapat menunjukkan hasil konkret dalam mendukung produksi film di Jakarta. Upaya ini juga menjadi bagian dari pengembangan Jakarta sebagai Kota Sinema menjelang perayaan 500 tahun Jakarta, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan produser dan investor internasional.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...