Asap Karhutla Bukan Cuma Bikin Sesak, Ini Dampaknya bagi Kesehatan

0 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla bukan hanya persoalan lingkungan. Ketika hutan dan lahan terbakar, asap yang dihasilkan dapat menurunkan kualitas udara dan membawa berbagai polutan yang berisiko bagi kesehatan manusia.

Kementerian Kesehatan mencatat karhutla pada 2026 berdampak terhadap lebih dari 10,6 juta penduduk di tujuh provinsi. Hingga 27 Agustus, tercatat 4.082 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam satu periode pelaporan, dengan jumlah kumulatif mencapai 13.449 kasus dari 63 kabupaten/kota terdampak.

Asap karhutla juga tidak selalu hanya menjadi masalah bagi orang yang berada sangat dekat dengan titik kebakaran. Partikel dan polutan yang terbawa asap dapat memengaruhi kualitas udara di wilayah yang lebih luas.

1. Asap Karhutla Mengandung Partikel Berbahaya

Salah satu ancaman utama dari asap karhutla adalah PM2.5, yakni partikel udara berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Kemenkes menyebut asap karhutla dapat mengandung PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida serta senyawa organik beracun. Paparan tersebut dapat menimbulkan risiko kesehatan, terutama ketika kualitas udara memburuk.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut asap kebakaran hutan sebagai sumber utama polusi udara yang mengandung berbagai partikel dan gas. Sekitar 90 persen massa partikel yang dilepaskan dari kebakaran hutan disebut berupa partikulat berukuran PM2.5 atau lebih kecil.

2. Dampaknya Bisa Terasa pada Saluran Pernapasan

Paparan asap karhutla dapat menyebabkan berbagai keluhan pada saluran pernapasan. Gejalanya bisa berupa batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, sesak napas hingga memburuknya kondisi seperti asma dan PPOK.

Data Kemenkes pada Agustus 2026 menunjukkan gangguan pernapasan menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan di wilayah terdampak karhutla. Selain ISPA, masyarakat juga dilaporkan mengalami batuk, radang tenggorokan, asma dan PPOK.

WHO juga mencatat paparan asap kebakaran dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, sesak napas, mengi dan serangan asma. Pada kondisi tertentu, paparan partikel asap juga dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.

3. Mata dan Kulit Juga Bisa Ikut Terdampak

Dampak asap tidak hanya dirasakan ketika seseorang bernapas. Mata juga dapat mengalami iritasi akibat paparan polutan di udara.

Keluhan yang mungkin muncul antara lain mata terasa perih, merah atau berair. Kemenkes juga mencatat iritasi mata dan kulit sebagai salah satu dampak kesehatan yang dapat muncul akibat paparan asap karhutla.

WHO menyebut iritasi mata dan saluran pernapasan termasuk keluhan yang dapat terjadi dalam jangka pendek setelah seseorang terpapar asap kebakaran. Tingkat keparahannya dapat dipengaruhi oleh konsentrasi polutan serta lama paparan.

4. Anak-Anak hingga Lansia Lebih Rentan

Tidak semua orang menghadapi risiko yang sama ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla. Kemenkes secara khusus meminta perlindungan lebih bagi anak-anak, lansia, ibu hamil dan orang yang memiliki penyakit bawaan. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu diperhatikan karena paru-paru dan sistem tubuh mereka masih berkembang.

WHO juga memasukkan anak-anak, lansia, ibu hamil serta orang dengan penyakit kronis, terutama penyakit jantung dan paru-paru, sebagai kelompok yang lebih rentan terhadap dampak asap kebakaran. Orang yang bekerja atau beraktivitas lama di luar ruangan juga dapat memiliki risiko paparan lebih tinggi.

5. Cara Melindungi Diri dari Paparan Asap

Ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla, mengurangi paparan menjadi salah satu langkah penting. Kemenkes mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika kondisi udara tidak sehat.

Masyarakat juga disarankan memantau kualitas udara dan mengikuti informasi dari pemerintah maupun otoritas kesehatan setempat. Jika memungkinkan, aktivitas di luar ruangan dikurangi ketika konsentrasi polutan sedang tinggi.

WHO juga menyarankan masyarakat mencari ruang dengan kualitas udara yang lebih baik, mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memperhatikan munculnya gejala akibat paparan asap.

Jika muncul sesak napas, nyeri dada, pusing berat atau keluhan pernapasan yang semakin memburuk, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil atau orang dengan penyakit paru dan jantung, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Darin Brenda Iskarina
Tim Penulis & Editor
Darin Brenda Iskarina
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKMIklan: Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--
YANG BARU