HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sejumlah daerah mulai mengalihkan pembelajaran tatap muka ke pembelajaran jarak jauh (PJJ) mulai Senin (7/9), sebagai langkah antisipasi menyusul sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang meluas ke sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek, Banten, Lampung, hingga Jawa Barat. Kebijakan ini diterapkan oleh dinas pendidikan daerah untuk melindungi peserta didik, guru, serta tenaga kependidikan dari risiko paparan debu vulkanik.
Dilansir dari konferensi pers terkait pembaruan situasi terkini pascaerupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan warga sekolah menjadi prioritas utama. Penyesuaian kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak mengacu pada tingkat keparahan dampak bencana serta nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di daerah-daerah yang terdampak.
“Di daerah yang terdampak cukup berat, maka pembelajaran dapat dilaksanakan melalui pembelajaran di rumah, melalui daring atau dilaksanakan di tempat yang aman, melalui sarana pembelajaran yang daring atau PJJ. Kemudian daerah yang tidak terdampak langsung, maka pembelajaran dapat tetap diselenggarakan di sekolah dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,” imbau Abdul Mut’i, dikutip Holopis.com, Senin (7/9).
Protokol tersebut mencakup penggunaan masker serta pembatasan kegiatan di luar ruang kelas. Di sisi lain, sekolah juga diminta menutup pintu dan jendela untuk meminimalkan masuknya abu vulkanik ke dalam ruang pembelajaran. Langkah ini dilakukan bukan tanpa alasan, abu vulkanik yang tersebar di udara memiliki ukuran sangat kecil sehingga dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.
Dokter spesialis anak konsultan respirologi (paru anak), Nastiti Kaswandani, menjelaskan bahwa abu vulkanik yang berada di udara umumnya memiliki ukuran sangat kecil, yakni kurang dari dua mikrometer. Partikel tersebut dapat membawa material padat atau gas yang berbahaya, seperti karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO₂), hidrogen sulfida (H₂S), metana, dan zat lainnya.
Nastiti juga menambahkan bahwa abu vulkanik memiliki sifat iritan dan korosif yang dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan. Dampaknya dapat dirasakan pada kulit, mata, serta saluran pernapasan, terutama ketika seseorang terpapar dalam jumlah atau durasi tertentu.
Risiko ini juga perlu menjadi perhatian pada anak-anak yang lebih rentan mengalami dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik dibandingkan orang dewasa. Kondisi ini dipengaruhi oleh frekuensi napas anak yang lebih tinggi, aktivitas fisik yang lebih banyak, serta proporsi ukuran paru-paru yang lebih besar.
“Udara yang berpolusi sebagian dapat disaring melalui hidung dan saluran napas sebelum mencapai paru, namun anak sering bernapas melalui mulut sehingga filtrasi partikel polutan kurang efisien,” ujar Nastiti, dikutip Holopis.com, Senin (7/9).
Paparan abu vulkanik yang masuk ke sistem pernapasan dapat memicu sejumlah keluhan, mulai dari bersin, pilek, sakit kepala, sakit tenggorokan, batuk hingga sesak napas. Pada kondisi tertentu, sebaran abu vulkanik juga dapat menimbulkan suara mengi atau napas berbunyi ngik-ngik, sehingga dapat memperburuk gangguan pernapasan yang sebelumnya telah dialami anak.
Risiko tersebut lebih perlu diwaspadai pada anak yang memiliki riwayat asma, alergi saluran pernapasan, penyakit paru kronis, maupun gangguan jantung bawaan. Pada kelompok tersebut, paparan abu vulkanik dapat memicu kekambuhan atau memperburuk kondisi yang sudah ada.
“Material debu yang masuk melalui saluran pernapasan bisa menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan hingga terjadi infeksi, yang dikenal dengan istilah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut),” kata Nastiti.
Selain menyerang saluran pernapasan, mata juga dapat terdampak karena partikel abu vulkanik memiliki sudut kristal yang meruncing atau tajam dan abrasif. Paparan dapat menyebabkan mata merah, gatal, berair, dan menimbulkan iritasi hingga merusak lapisan kornea pada permukaan mata.
Lebih lanjut, kulit juga dapat mengalami gangguan apabila terkena abu vulkanik secara langsung. Material vulkanik yang bersifat asam dapat menyebabkan gatal, kemerahan, iritasi, bahkan meningkatkan risiko infeksi apabila paparan berlangsung dalam kondisi tertentu.




