HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut pun memunculkan pertanyaan, kenapa pesawat tidak bisa tetap terbang ketika jalur penerbangannya dilintasi abu vulkanik?
Jawabannya, abu vulkanik bukan sekadar debu yang mengganggu jarak pandang. Material hasil letusan gunung api itu dapat menjadi ancaman serius bagi pesawat, terutama apabila masuk ke bagian-bagian vital seperti mesin.
Abu vulkanik terdiri dari partikel batuan dan mineral yang sangat kecil serta bersifat abrasif. Ketika pesawat terbang menembus awan abu, partikel tersebut dapat terhisap ke dalam mesin dan merusak berbagai komponen pesawat.
Bahaya paling serius terjadi pada mesin jet.
Berdasarkan penjelasan U.S. Geological Survey (USGS), partikel abu vulkanik yang masuk ke mesin dapat meleleh akibat suhu tinggi di dalam mesin. Material tersebut kemudian dapat menempel dan kembali mengeras pada bagian mesin yang lebih dingin.
Kondisi itu dapat mengganggu performa mesin, menyebabkan compressor stall, kehilangan daya dorong, hingga flameout atau matinya mesin saat pesawat masih berada di udara.
Bukan Cuma Mesin, Sistem Pesawat Juga Bisa Terganggu
Ancaman abu vulkanik ternyata tidak berhenti pada mesin pesawat. Partikel tersebut juga dapat mengikis kaca kokpit, permukaan badan pesawat, hingga komponen lainnya yang berada di bagian depan pesawat.
USGS menyebut abu vulkanik juga berpotensi merusak sistem kendali dan instrumen penting dalam penerbangan. Sementara itu, Federal Aviation Administration (FAA) memperingatkan bahwa abu vulkanik dapat menyumbat sistem pitot dan menyebabkan informasi mengenai kecepatan pesawat menjadi tidak akurat.
Masalah lainnya, awan abu vulkanik tidak selalu mudah dikenali oleh pilot. Dalam kondisi tertentu, terutama pada malam hari atau ketika jarak pandang terbatas, awan abu dapat sulit dibedakan dari awan biasa.
Bahkan, FAA menjelaskan bahwa awan abu vulkanik umumnya tidak dapat terlihat melalui radar pesawat maupun radar pengatur lalu lintas udara. Pilot karena itu harus mengandalkan informasi dari pengatur lalu lintas udara, laporan penerbangan, serta sistem pemantauan aktivitas vulkanik untuk mengetahui lokasi sebaran abu.
Risiko tersebut membuat pesawat tidak bisa dipaksakan terbang melewati wilayah yang diketahui memiliki konsentrasi abu vulkanik berbahaya.
Dalam situasi seperti ini, maskapai dapat mengubah rute penerbangan, menunda keberangkatan, atau membatalkan penerbangan. Bandara juga bisa menghentikan sementara operasional apabila kondisi abu vulkanik dinilai dapat membahayakan proses lepas landas maupun pendaratan.
Jadi, ketika penerbangan terganggu akibat erupsi gunung api, penyebabnya bukan hanya karena langit terlihat tertutup debu. Abu vulkanik yang tampak seperti awan biasa itu bisa masuk ke mesin, merusak komponen pesawat, hingga dalam kondisi ekstrem menyebabkan mesin kehilangan tenaga di udara.




