JAKARTA, HOLOPIS.COM – Perry Warjiyo resmi mundur dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI). Keputusan ini langsung menjadi perhatian pasar, terutama terkait arah pergerakan rupiah di tengah tekanan dolar AS dan ketidakpastian ekonomi global.
Kabar mundurnya Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia (BI) mulai menjadi perhatian pasar keuangan.
Di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, investor langsung mencermati dampak pergantian kepemimpinan bank sentral terhadap pergerakan rupiah.
Pada perdagangan Senin (27/7/2026), nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan.
Berdasarkan data pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah bergerak di level Rp17.987 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 07.49 WIB.
Mata uang Garuda tercatat melemah 0,13 persen setelah sempat menguat 0,54 persen pada perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah terjadi setelah pasar mulai memasukkan sentimen domestik terkait pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai salah satu faktor risiko.
Meski pemerintah memastikan keputusan tersebut berjalan sesuai mekanisme hukum dan tidak ada intervensi, perubahan posisi pucuk pimpinan BI tetap menjadi perhatian pelaku pasar.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menerima surat pengunduran diri Perry Warjiyo.
Pemerintah juga memberikan apresiasi atas kontribusi Perry selama memimpin BI hampir tujuh tahun.
“Sesuai dengan mekanisme dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, terutama mengacu kepada UU BI, maka yang pertama Presiden menerima pengunduran diri dari Bapak Perry Warjiyo tentu disertai ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi beliau selama kurang lebih 7 tahun lamanya memimpin BI,” kata Prasetyo.
Untuk sementara, posisi Gubernur BI akan dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai pejabat sementara.
Kondisi transisi kepemimpinan ini membuat investor menunggu kepastian mengenai arah kebijakan moneter Indonesia ke depan.



