CELIOS membandingkan jumlah perguruan tinggi yang sudah ada saat ini dengan jumlah penduduk Indonesia.
Berdasarkan data yang mereka sampaikan, Indonesia telah memiliki sekitar 4.303 lembaga pendidikan tinggi untuk melayani populasi sekitar 285 juta penduduk.
Dengan jumlah tersebut, CELIOS menilai masalah utama pendidikan tinggi nasional bukan kekurangan jumlah kampus, melainkan bagaimana meningkatkan mutu institusi yang sudah ada.
“Kebutuhan utama Indonesia bukan membangun lebih banyak gedung kampus, tetapi memperkuat kualitas dosen, laboratorium, dana riset, dan beasiswa,” tulis CELIOS.
Terkait alasan pemerintah membangun kampus baru untuk memperbanyak tenaga profesional, khususnya bidang kesehatan, CELIOS menawarkan alternatif lain.
Mereka menilai pemerintah dapat memperluas kapasitas fakultas kedokteran di universitas yang telah berjalan dibanding memulai pembangunan institusi baru dari awal.
CELIOS juga mengingatkan Russell Group agar mempertimbangkan dampak reputasi apabila tetap terlibat dalam proyek tersebut.
Menurut mereka, kerja sama dengan pemerintah Indonesia berpotensi mendapat sorotan apabila publik menilai proyek itu mengabaikan penguatan perguruan tinggi yang sudah ada.


Russell Group sendiri merupakan asosiasi yang menaungi 24 universitas riset ternama di Inggris, termasuk sejumlah kampus kelas dunia seperti University of Oxford, University of Cambridge, Imperial College London, dan London School of Economics.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia merancang pembangunan Universitas Republik Indonesia sebagai bagian dari upa
ya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi nasional melalui kerja sama internasional.
Proyek tersebut diarahkan untuk menghadirkan perguruan tinggi bertaraf global dengan dukungan mitra akademik dari luar negeri.
Namun, kritik CELIOS menambah panjang perdebatan mengenai prioritas kebijakan pendidikan tinggi nasional.
Di tengah ambisi menghadirkan kampus baru berstandar internasional, pemerintah kini dihadapkan pada tuntutan untuk terlebih dahulu menyelesaikan persoalan mendasar, termasuk kesejahteraan dosen dan penguatan kualitas riset dalam negeri.



