HOLOPIS.COM, JAKARTA – Jerawat sering kali dianggap lebih identik dengan perempuan karena banyak dikaitkan dengan penggunaan makeup atau perubahan hormon saat menstruasi. Tak sedikit pula yang menganggap pria lebih jarang mengalami masalah kulit ini.
Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Faktanya, pria juga rentan mengalami jerawat, bahkan pada beberapa kasus kondisinya bisa lebih parah dibandingkan perempuan. Hal ini berkaitan dengan produksi hormon androgen, terutama testosteron, yang dapat memengaruhi aktivitas kelenjar minyak pada kulit.
Menurut American Academy of Dermatology (AAD), jerawat terjadi ketika pori-pori tersumbat oleh minyak (sebum), sel kulit mati, dan bakteri. Ketika sumbatan tersebut meradang, muncullah komedo, papula, pustula, hingga jerawat yang lebih besar dan nyeri. Sementara itu, Mayo Clinic menjelaskan bahwa perubahan hormon menjadi salah satu faktor utama yang memicu peningkatan produksi minyak pada kulit. Kondisi inilah yang membuat pria tetap berisiko mengalami jerawat, bahkan setelah melewati masa remaja.
Lantas, mengapa pria bisa mengalami jerawat yang lebih berat?
Produksi minyak pada kulit pria cenderung lebih tinggi
Sobat Holopis, salah satu perbedaan utama antara kulit pria dan perempuan terletak pada produksi minyak alami. Pengaruh hormon testosteron membuat kelenjar sebasea pada pria bekerja lebih aktif sehingga menghasilkan lebih banyak sebum. Minyak alami memang berfungsi menjaga kelembapan kulit, tetapi jika jumlahnya berlebihan, pori-pori menjadi lebih mudah tersumbat dan memicu jerawat.
Inilah alasan mengapa pria umumnya memiliki wajah yang lebih berminyak, terutama di area dahi, hidung, dan dagu.
Jerawat tidak hanya muncul saat remaja
Banyak orang mengira jerawat akan hilang setelah memasuki usia dewasa. Nyatanya, jerawat bisa tetap muncul pada usia 20-an, 30-an, bahkan lebih.
AAD menyebut kondisi ini sebagai adult acne atau jerawat pada orang dewasa. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari faktor genetik, stres, penggunaan produk perawatan yang tidak sesuai, hingga kebiasaan sehari-hari yang memengaruhi kesehatan kulit. Karena itu, usia bukan jaminan seseorang terbebas dari jerawat.
Mencukur jenggot juga bisa memicu masalah kulit. Bagi pria, aktivitas mencukur wajah merupakan rutinitas yang dapat memengaruhi kondisi kulit.
Pisau cukur yang kurang bersih, teknik mencukur yang terlalu kasar, atau penggunaan produk cukur yang tidak cocok dapat menyebabkan iritasi. Pada sebagian orang, kondisi ini bahkan memicu rambut tumbuh ke dalam (ingrown hair) yang sekilas tampak seperti jerawat.
Untuk mengurangi risiko tersebut, para dermatolog menyarankan menggunakan pisau cukur yang bersih, mencukur mengikuti arah tumbuhnya rambut, serta menggunakan pelembap setelah bercukur.
Pola hidup ikut memengaruhi kondisi kulit
Meski makanan bukan penyebab utama jerawat, sejumlah penelitian menunjukkan pola makan tertentu dapat memperburuk kondisinya pada sebagian orang.
Selain itu, kurang tidur, stres berkepanjangan, serta kebiasaan menyentuh wajah dengan tangan yang kotor juga dapat meningkatkan risiko munculnya jerawat.
Menjaga pola hidup sehat tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan, tetapi juga membantu menjaga kondisi kulit tetap optimal.
Perlukah memakai skincare?
Jawabannya, ya.
Pria juga membutuhkan rutinitas perawatan kulit sederhana untuk membantu menjaga kebersihan pori-pori dan mengurangi risiko jerawat.
AAD merekomendasikan penggunaan pembersih wajah yang lembut dua kali sehari, pelembap sesuai jenis kulit, serta sunscreen dengan SPF minimal 30 setiap pagi. Jika menggunakan produk anti jerawat yang mengandung benzoyl peroxide atau salicylic acid, gunakan sesuai petunjuk agar tidak menyebabkan kulit menjadi terlalu kering.
Kapan harus menemui dokter?
Jerawat ringan umumnya dapat membaik dengan perubahan kebiasaan dan penggunaan produk yang tepat. Namun, jika jerawat terasa nyeri, berukuran besar, meninggalkan bekas luka, atau tidak kunjung membaik setelah beberapa minggu menggunakan produk bebas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit.


