HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ambisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Venezuela kembali memicu kontroversi internasional. Kali ini, Trump secara kontroversi menyebut Venezuela yang kaya minyak sebagai kandidat potensial negara bagian ke-51 AS.
Pernyataan kontroversial itu muncul di tengah semakin kuatnya pengaruh Washington terhadap sektor energi Venezuela. Kondisi itu pasca tergulingnya Presiden Nicolás Maduro dari kekuasaan melalui intervensi militer AS pada Januari lalu.
Dalam percakapan telepon dengan Fox News, Trump mengaku tertarik dengan potensi minyak Venezuela yang disebut bernilai sangat besar. Ia bahkan menyebut warga Venezuela mendukung dirinya.
“Venezuela mencintai Trump,” kata Trump dikutip dari Fox News, Selasa, (12/5/2026)
Trump menyebut cadangan minyak Venezuela diperkirakan mencapai 40 triliun dolar AS. Nilai fantastis itu diyakini menjadi alasan utama Washington semakin agresif mendekati negara Amerika Selatan tersebut.
Setelah Maduro ditangkap, militer AS dan dibawa ke proses hukum atas tuduhan terorisme narkoba, pemerintahan Trump mulai memperluas pengaruhnya di Venezuela.
Trump bahkan pernah menyatakan AS akan “menjalankan” Venezuela selama masa transisi bersama Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez.
Di bawah pemerintahan sementara yang dipimpin Rodríguez, sektor minyak Venezuela mulai dibuka kembali untuk investasi asing.
Sejumlah perusahaan energi besar disebut mulai diajak masuk oleh pemerintah AS. Selama beberapa bulan terakhir, pejabat Gedung Putih dan penasihat energi Trump dilaporkan intens menggelar pertemuan dengan para petinggi perusahaan minyak dunia untuk membahas peluang investasi di Venezuela.
Hasilnya mulai terlihat. Ekspor minyak Venezuela pada April 2026 dikabarkan menembus lebih dari 1 juta barel per hari, level tertinggi sejak 2018.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyampaikan hubungan antara Venezuela dan AS luar biasa.
“Minyak mulai mengalir, dan sejumlah besar uang, yang belum pernah terlihat selama bertahun-tahun, akan segera membantu rakyat Venezuela yang hebat,” kata juru bicara Gedung Putih kepada Fox News.
“Hanya Presiden Trump yang dapat diberi penghargaan atas revitalisasi kemitraan baru ini, dan yang terbaik masih akan datang!” jelas Karoline.
Meski demikian, Gedung Putih belum beri rincian konkret terkait rencana Trump jika benar-benar ingin menjadikan Venezuela bagian dari AS.
Wacana itu sebenarnya sudah beberapa kali dilontarkan Trump. Pada Maret lalu, ia sempat menulis di media sosial Truth Social mengenai kemungkinan Venezuela menjadi negara bagian AS.
“Hal-hal baik terjadi pada Venezuela akhir-akhir ini! Saya bertanya-tanya apa sebenarnya keajaiban ini? STATUS NEGARA BAGIAN, #51, ADA YANG TERTARIK?” tulis Trump.
Namun gagasan tersebut langsung ditolak keras oleh Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez. Ia menegaskan negaranya tidak akan pernah menyerahkan kedaulatan kepada AS.
“Kami akan terus membela integritas, kedaulatan, kemerdekaan, dan sejarah kami,” kata Rodríguez di Den Haag.
Rodríguez juga menegaskan Venezuela bukan koloni, melainkan negara merdeka yang memiliki sejarah panjang perjuangan kemerdekaan.
Secara hukum, rencana menjadikan Venezuela sebagai negara bagian AS juga dinilai hampir mustahil dilakukan. Langkah tersebut membutuhkan persetujuan Kongres AS dan dukungan penuh dari rakyat Venezuela sendiri.


