Kenapa Mahkota Binokasih Dianggap Sakral? Ini Sejarah dan Makna Tersembunyinya

27 Shares

BOGOR, HOLOPIS.COM Mahkota Binokasih bukan sekadar pusaka Pajajaran, tetapi simbol sakral penuh filosofi Sunda dan sejarah kerajaan.

Mahkota Binokasih Sanghyang Paké kembali menjadi perhatian publik usai diarak dalam Kirab Budaya Tatar Sunda 2026 di berbagai daerah Jawa Barat.

Kemunculannya bukan hanya memikat warga karena bentuknya yang megah berlapis emas, tetapi juga karena mahkota ini dipercaya sebagai salah satu pusaka paling sakral dalam sejarah Kerajaan Sunda Pajajaran.

Di balik kemegahan arak-arakan budaya tersebut, Mahkota Binokasih ternyata menyimpan sejarah panjang tentang kejayaan, keruntuhan, hingga kelanjutan peradaban Sunda di tanah Jawa Barat.

Mahkota Binokasih Sanghyang Paké saat ini tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang.

Pusaka itu ditempatkan di ruang khusus dengan pengamanan ketat karena dianggap sebagai peninggalan asli kerajaan Sunda terakhir sebelum runtuhnya Pajajaran pada abad ke-16.

- Advertisement -

Terbuat dari emas dan dihiasi batu permata, mahkota tersebut dikenal sebagai simbol kebesaran raja-raja Sunda.

Nama lengkapnya, Binokasih Sanghyang Paké, juga mengandung filosofi mendalam yang diwariskan turun-temurun.

Menurut kisah sejarah yang berkembang di lingkungan Karaton Sumedang Larang, Mahkota Binokasih dibuat atas prakarsa Sanghyang Bunisora Suradipati, Raja Galuh yang memerintah sekitar tahun 1057 hingga 1099.

Sejak saat itu, mahkota digunakan dalam prosesi penting kerajaan, termasuk penobatan raja baru Sunda Pajajaran.

Kesakralan Mahkota Binokasih semakin kuat setelah peristiwa runtuhnya Kerajaan Pajajaran pada 1579.

Ketika ibu kota Pakuan Pajajaran diserbu pasukan Kesultanan Banten, sejumlah pembesar kerajaan berhasil menyelamatkan pusaka-pusaka penting, termasuk Mahkota Binokasih.

Mahkota itu kemudian dibawa ke Sumedang Larang dan diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun sebagai simbol estafet kejayaan dan keberlanjutan peradaban Sunda.

Sejak berada di Sumedang, Mahkota Binokasih menjadi pusaka kerajaan yang diwariskan kepada penguasa Sumedang Larang hingga masa pemerintahan para bupati Sumedang.

Radya Anom Karaton Sumedang Larang, Luky Djohari Soemawilaya, mengatakan kesakralan Mahkota Binokasih bukan hanya karena faktor sejarah, tetapi juga filosofi kehidupan yang terkandung di dalamnya.

“Binokasih berarti kasih sayang, sedangkan Sanghyang Paké berarti digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, kasih sayang harus diterapkan dalam kehidupan,” ujar Luky.

Menurutnya, filosofi tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan harus dibangun dengan nilai gotong royong, toleransi, musyawarah, keadilan, dan kebijaksanaan.

Tak hanya dari nama, bentuk Mahkota Binokasih juga menyimpan makna mendalam.

Mahkota ini memiliki tiga susunan yang melambangkan konsep Tritangtu Sunda, yakni silih asah, silih asih, dan silih asuh.

Konsep tersebut menggambarkan pentingnya saling berbagi ilmu, menyayangi, dan membimbing dalam kehidupan masyarakat Sunda.

Selain itu, ornamen bunga wijaya kusuma dan burung julang yang menghiasi mahkota dipercaya melambangkan kesetiaan, ketulusan, serta kekuatan tekad.

Kini, Mahkota Binokasih bukan hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga ikon budaya Sunda yang terus dijaga keberadaannya.

Replika mahkota bahkan dipamerkan di Museum Sri Baduga Bandung untuk memperkenalkan sejarah Pajajaran kepada masyarakat luas.

Kirab Mahkota Binokasih yang digelar dalam rangka Milangkala Tatar Sunda 2026 pun disebut sebagai upaya menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat Sunda terhadap akar sejarah dan nilai leluhur mereka.

Bagi masyarakat Jawa Barat, Mahkota Binokasih bukan sekadar benda kerajaan.

Pusaka itu dianggap sebagai simbol jatidiri Sunda yang mengajarkan kasih sayang, persatuan, dan kepemimpinan yang bijaksana dari generasi ke generasi.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU