HOLOPIS.COM, JAKARTA – Insiden tragis yang melibatkan taksi listrik Green SM dan kereta api di perlintasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam (27/4/2026), memicu perhatian luas publik. Tak hanya soal penyebab kecelakaan yang masih diselidiki, rekam jejak operasional armada ini pun ikut disorot.
Peristiwa yang menimbulkan korban jiwa tersebut kini tengah ditangani oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama kepolisian. Olah tempat kejadian perkara dan pemeriksaan teknis kendaraan dilakukan untuk mengungkap kronologi pasti, termasuk kemungkinan faktor penyebab kecelakaan.
Namun di tengah proses investigasi, catatan insiden sebelumnya yang melibatkan armada taksi listrik yang dikenal publik dengan sebutan taksi hijau itu mencuat ke permukaan.
Berdasarkan rangkuman sejumlah kejadian yang dirangkum Holopis.com, kecelakaan di perlintasan rel bukan kali pertama melibatkan armada ini. Insiden serupa dilaporkan pernah terjadi di kawasan Kemayoran pada Januari 2026, serta di Cengkareng pada Oktober 2025.
Tak hanya di perlintasan kereta, sejumlah kejadian di jalan raya juga menjadi perhatian. Pada awal 2026, sebuah unit di Karang Tengah, Tangerang, dilaporkan bergerak mundur hingga menabrak bangunan.
Selain itu, kecelakaan tunggal di kawasan Roxy pada 2025 dan insiden benturan dengan kendaraan lain di Jakarta pada akhir tahun yang sama turut menambah daftar panjang peristiwa.
Rangkaian kejadian tersebut memunculkan pertanyaan publik terkait kesiapan operasional kendaraan listrik dalam layanan transportasi umum. Apalagi, penggunaan teknologi baru di sektor ini masih dalam tahap adaptasi, baik dari sisi pengemudi, sistem kendaraan, maupun infrastruktur pendukung.
Di sisi lain, dorongan penggunaan kendaraan listrik sebagai solusi transportasi ramah lingkungan terus meningkat. Namun, insiden demi insiden menunjukkan bahwa aspek keselamatan belum bisa dipandang sebagai formalitas semata.
Hasil investigasi KNKT akan menjadi penentu arah evaluasi ke depan. Apakah kecelakaan dipicu oleh faktor manusia, kondisi perlintasan, atau persoalan teknis kendaraan, seluruhnya akan menjadi dasar pembenahan sistem transportasi berbasis listrik di Indonesia.
Pihak manajemen Green SM Indonesia setelah insiden tabrakan maut di Bekasi Timur telah menyatakan komitmennya untuk mendukung penuh proses penyelidikan yang tengah berlangsung.
“Green SM Indonesia menaruh perhatian penuh pada terjadinya insiden di area perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026, yang melibatkan satu kendaraan Green SM dan kereta yang melintas,” demikian keterangan Green SM Indonesia di akun Instagram dikutip Holopis.com pada Selasa (28/4/2026).
“Kami telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang serta mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung,” lanjut pernyataan tersebut.

