HOLOPIS.COM, JAKARTA – Viral di medsos, menu MBG dibandingkan makanan Rp14.900 Superindo. Netizen ramai mempertanyakan kualitas dan penggunaan anggaran triliunan rupiah.
Perbandingan antara menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan makanan siap saji Superindo seharga Rp14.900 viral di media sosial dan langsung memicu gelombang komentar negatif dari warganet.
Salah satunya diunggah oleh akun X @165Hati.
“Perbandingan yg mencolok menu superindo 14 Ribuan dapat makan an yg standar gizinya cukup ok dibandingkan kualitas Menu Mbg 15 Ribuan yg tidak sesuai espektasi makanan bergizi,” cuitnya.
Unggahan tersebut menampilkan kontras yang mencolok, terutama dari segi tampilan dan variasi menu.
Dalam foto yang beredar, makanan siap saji dari ritel modern terlihat tersusun rapi dengan kombinasi warna yang menggugah selera.
Sementara itu, beberapa contoh menu MBG yang dibagikan ke siswa tampak sederhana, dengan komposisi yang dinilai kurang menarik secara visual.
Perbandingan ini dengan cepat menyedot perhatian publik.
Banyak netizen menyuarakan kekecewaan mereka melalui berbagai platform, mempertanyakan kualitas program yang dijalankan dengan dukungan anggaran besar.
“Rp14.900 bisa dapat makanan kayak gitu di supermarket, ini program triliunan malah kelihatan kayak nasi bungkus murah,” tulis akun @dimaspratamaa.
Komentar senada juga datang dari akun lain yang menyoroti efisiensi anggaran dalam program tersebut.
“Kalau swasta bisa murah, rapi, dan enak, berarti ada yang salah di pengelolaannya. Anggaran segitu ke mana?” tulis @ranioktavia.
Tak hanya soal harga dan kualitas, aspek tampilan makanan juga menjadi sorotan utama.
Sejumlah netizen menilai bahwa penyajian makanan MBG belum memperhatikan faktor estetika, padahal hal tersebut dianggap penting untuk meningkatkan selera makan anak-anak.
“Anak-anak disuruh makan sehat, tapi tampilannya nggak menarik. Ya wajar kalau nggak habis,” komentar @bagas_wicaksono.
Beberapa warganet bahkan menyindir bahwa standar makanan program negara seharusnya bisa melampaui produk komersial yang dijual bebas di pasaran.
“Ini program nasional loh, bukan catering acara kecil. Masa kalah sama makanan minimarket?” tulis akun @nurulhidayah_21.
Selain itu, variasi menu juga ikut dikritik, netizen menyebut menu MBG terlihat monoton dan kurang inovatif dibandingkan makanan siap saji yang justru memiliki banyak pilihan meskipun dijual dengan harga terjangkau.
“Menu itu-itu terus, beda jauh sama yang dijual di supermarket. Padahal ini buat anak-anak, harusnya lebih kreatif,” tulis @andre_setiawan90.
Nada kritik semakin tajam ketika sebagian netizen mulai membandingkan sistem pengelolaan antara sektor pemerintah dan swasta.
Mereka menilai pihak swasta lebih mampu menjaga kualitas produk sekaligus efisiensi biaya.
“Serius deh, mending kerja sama sama retail atau catering profesional. Jangan semua dikerjain sendiri tapi hasilnya begini,” ujar @salsanabila.id.
Tak sedikit pula yang menyoroti kebersihan dan kerapihan penyajian.
Dalam beberapa unggahan, netizen mengaku menemukan tampilan makanan MBG yang dinilai kurang higienis jika dibandingkan dengan standar makanan ritel modern.
“Dari tampilannya aja udah beda kelas. Yang satu kelihatan bersih dan niat, yang satu kayak asal jadi,” tulis akun @fajaraditya_.
Unggahan-unggahan tersebut terus dibagikan ulang dan memicu diskusi yang semakin luas.
Tagar terkait MBG dan perbandingan makanan murah pun sempat ramai di linimasa, memperlihatkan besarnya perhatian publik terhadap isu ini.
Seiring viralnya perbandingan tersebut, tekanan dari warganet di media sosial pun terus meningkat, dengan berbagai komentar yang mempertanyakan kualitas, pengelolaan, hingga hasil nyata dari program yang sedang berjalan.


