HOLOPIS.COM, JAKARTA – Insiden kembali gugurnya prajurit TNI dalam misi perdamaian memicu sorotan terhadap efektivitas sistem perlindungan pasukan internasional. Tragedi ini tak hanya menjadi duka bagi Indonesia, tapi juga menjadi alarm serius bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
PBB diminta untuk mengevaluasi ulang mekanisme keamanan dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta menilai situasi di lapangan sudah jauh berubah dan menuntut penyesuaian kebijakan perlindungan pasukan penjaga perdamaian.
“Kami mendorong PBB untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mandat dan mekanisme perlindungan pasukan UNIFIL, agar sesuai dengan realitas ancaman yang berkembang di lapangan,” kata Sukamta dalam keterangannya di Jakarta, dikutip pada Minggu, (26/4/2026).
Menurut Sukamta, perlindungan terhadap personel yang menjalankan mandat perdamaian tak boleh diabaikan. Hal itu terlebih dalam konflik yang melibatkan banyak aktor dengan eskalasi tinggi.
Selain evaluasi sistem, Sukamta juga menyampaikan pentingnya investigasi terbuka atas insiden yang menewaskan Praka Rico Pramudia. Ia menilai kejelasan kronologi dan pihak yang bertanggung jawab menjadi kunci untuk mencegah kejadian serupa.
“Kami memandang bahwa perlindungan terhadap personel PBB harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh diabaikan oleh pihak mana pun, termasuk dalam dinamika konflik yang melibatkan Israel dan aktor lainnya di kawasan,” ujarnya.
Serangan terhadap markas UNIFIL yang menyebabkan korban jiwa menunjukkan bahwa zona operasi yang sebelumnya dianggap relatif aman kini telah berubah menjadi wilayah berisiko tinggi.
Pun, di sisi lain, Sukamta juga minta pemerintah RI melakukan evaluasi internal terhadap sistem penugasan prajurit dalam misi luar negeri. Ia menilai aspek keamanan, kesiapan, hingga pola penempatan harus ditinjau ulang tanpa mengurangi komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia.
Menurut dia, pemerintah Indonesia perlu melakukan peninjauan komprehensif terhadap aspek keamanan, kesiapan, dan pola penugasan prajurit dalam misi perdamaian.
“Tanpa mengurangi komitmen Indonesia sebagai kontributor aktif dalam menjaga stabilitas global,” tuturnya.
Lebih lanjut, Sukamta menyampaikan bahwa misi perdamaian tak boleh dibayar dengan pengorbanan tanpa perlindungan maksimal. Ia menyebut setiap prajurit yang gugur harus jadi refleksi bagi komunitas internasional untuk memperkuat sistem keamanan.
“Serangan yang terjadi di wilayah operasi UNIFIL menunjukkan bahwa situasi di lapangan telah mengalami eskalasi signifikan sehingga menempatkan pasukan penjaga perdamaian dalam risiko yang semakin tinggi,” jelas politikus PKS itu.
Sukamta juga menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Praka Rico, yang wafat setelah menjalani perawatan akibat luka dari serangan peluru kendali ke markas UNIFIL pada 29 Maret lalu.
“Kami menyampaikan dukacita yang mendalam atas gugurnya prajurit terbaik TNI dalam misi UNIFIL di Lebanon. Pengorbanan ini adalah bentuk nyata komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia, sebagaimana amanat konstitusi,” katanya.
Kepergian Praka Rico menambah daftar panjang prajurit TNI yang gugur dalam misi di Lebanon. Sebelumnya, tiga nama lain juga telah lebih dulu berpulang, yakni Mayor Infanteri Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon.
“Semoga para prajurit yang gugur mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” kata Sukamta.


