Kepala BGN Klarifikasi Isu 19 Ribu Sapi MBG: Hanya Pengandaian

0 Shares

HOLOPIS.COM, Jakarta – Kepala BGN klarifikasi isu 19 ribu sapi MBG, tegaskan angka tersebut hanya pengandaian perhitungan, bukan kebutuhan riil program.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memberikan klarifikasi terkait viralnya pernyataan mengenai kebutuhan 19 ribu sapi per hari dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menegaskan, angka tersebut bukan merupakan kebutuhan nyata, melainkan hanya pengandaian atau simulasi perhitungan dalam skenario tertentu.

Polemik ini mencuat setelah potongan video pernyataan Dadan saat melaporkan perkembangan program MBG kepada Presiden Prabowo Subianto beredar luas di media sosial.

Dalam video tersebut, Dadan menyampaikan ilustrasi mengenai kebutuhan bahan pangan apabila seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memasak menu berbahan daging sapi secara serentak.

Dalam penjelasannya, Dadan menyebut bahwa jika satu SPPG membutuhkan satu ekor sapi untuk sekali memasak, maka dengan estimasi 19 ribu SPPG, kebutuhan bisa mencapai 19 ribu ekor sapi dalam satu hari apabila seluruh unit memasak menu yang sama secara bersamaan.

- Advertisement -

“Dan kemudian pak, kalau masak daging sapi, 1 ekor sapi 1 hari dipotong untuk 1 SPPG, jadi kalau di akhir tahun ini ada 19 ribu SPPG, maka ada 19 ribu sapi dalam 1 hari harus dipotong karena program makan bergizi gratis,” ujar Dadan dalam video yang beredar luas tersebut.

Pernyataan ini kemudian memicu beragam reaksi di media sosial.

Banyak warganet menyoroti angka tersebut dan membandingkannya dengan data ketersediaan sapi nasional.

Sejumlah pihak bahkan mempertanyakan logika perhitungan tersebut, hingga menimbulkan perdebatan panjang di ruang digital.

Menanggapi kegaduhan tersebut, Dadan menegaskan bahwa interpretasi publik terhadap pernyataannya tidak tepat.

Ia menyebut angka 19 ribu sapi bukanlah proyeksi konsumsi harian, melainkan ilustrasi matematis untuk menggambarkan potensi kebutuhan jika seluruh SPPG memilih menu yang sama secara bersamaan.

“Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG dikalikan satu ekor sapi,” jelasnya.

Dadan juga menambahkan bahwa dalam implementasi program MBG, tidak ada kebijakan menu seragam secara nasional.

Setiap SPPG memiliki fleksibilitas dalam menentukan menu makanan sesuai ketersediaan bahan pangan lokal dan kebutuhan gizi di daerah masing-masing.

Menurutnya, pendekatan ini justru sengaja diterapkan untuk menjaga stabilitas pasokan pangan dan menghindari lonjakan permintaan terhadap komoditas tertentu, termasuk daging sapi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam satu kali proses memasak, kebutuhan daging sapi di satu SPPG berkisar antara 350 hingga 382 kilogram, yang secara kasar setara dengan satu ekor sapi.

Namun angka tersebut tetap bergantung pada variasi menu yang disusun oleh masing-masing unit pelaksana.

BGN menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis dirancang dengan prinsip diversifikasi pangan, sehingga tidak bergantung pada satu jenis sumber protein saja.

Alternatif seperti ayam, ikan, telur, dan sumber protein nabati juga menjadi bagian dari menu yang disediakan.

Meski demikian, viralnya potongan pernyataan tersebut menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap program MBG, sekaligus sensitifnya isu pangan di tengah masyarakat.

Banyak pihak berharap komunikasi publik terkait program strategis nasional ini dapat disampaikan lebih utuh agar tidak menimbulkan salah persepsi.

Dengan klarifikasi ini, BGN berharap publik dapat memahami konteks pernyataan secara menyeluruh, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat memicu polemik berkepanjangan di ruang media sosial.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU