HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menkeu Purbaya sebut APBN 2026 tetap sehat dengan defisit rendah, pajak naik, dan ekonomi tumbuh 5,61%, RI dinilai jauh dari krisis 1998.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2026 masih berada dalam kondisi yang sangat terjaga.
Bahkan, ia menegaskan bahwa perekonomian Indonesia saat ini jauh dari kekhawatiran krisis seperti yang pernah terjadi pada 1998.
Data terbaru yang dipaparkan menunjukkan defisit APBN hanya berada di level 0,70% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), atau setara sekitar Rp180,4 triliun per Mei 2026. Angka ini dinilai masih aman dan mencerminkan pengelolaan fiskal yang cukup disiplin di tengah dinamika ekonomi global.
“Artinya dengan angka yang sekarang defisit, APBN kita masih amat terjaga,” ujar Purbaya.
Salah satu faktor yang membuat APBN tetap stabil adalah kinerja penerimaan pajak yang melonjak signifikan. Tercatat, penerimaan pajak tumbuh hingga 22,1% secara tahunan (year on year/yoy) dalam lima bulan pertama 2026.
Menurut Purbaya, lonjakan ini tidak lepas dari hasil reformasi perpajakan yang terus diperkuat, termasuk reorganisasi internal di lingkungan otoritas pajak.
“Keberhasilannya adalah kita bisa meningkatkan pendapatan pajak secara signifikan. Jadi kalau dibanding tahun lalu, 5 bulan pertama pajak kita tumbuh 22,1%. Itu pertumbuhan yang amat signifikan,” jelasnya.
Kinerja ini menjadi salah satu indikator bahwa mesin fiskal negara sedang bekerja lebih efisien, terutama dalam mengoptimalkan basis pajak dari sektor-sektor produktif.
Dari sisi makroekonomi, Indonesia juga mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61% (yoy) pada kuartal I-2026. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih berada pada jalur ekspansi yang stabil.
Purbaya menegaskan bahwa sumber pertumbuhan tidak hanya bertumpu pada belanja pemerintah, tetapi lebih banyak digerakkan oleh sektor swasta.
“Kontribusi pemerintah ke ekonomi hanya sekitar 7,7%. Sisanya private sector,” katanya.
Artinya, peran dunia usaha dan konsumsi masyarakat menjadi penggerak utama ekonomi nasional. Pemerintah, menurutnya, hanya berfungsi sebagai katalis melalui berbagai kebijakan dan program strategis.
Sejumlah program unggulan pemerintah juga disebut ikut menjaga momentum pertumbuhan, salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memberi efek berantai ke sektor pangan, logistik, hingga UMKM.
Selain itu, stimulus seperti gaji ke-13 untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pensiunan turut mendorong daya beli masyarakat di berbagai daerah.
“Stimulus seperti ini membantu menjaga konsumsi tetap kuat,” ujar Purbaya.
Di sisi lain, sektor otomotif dan konsumsi rumah tangga juga menunjukkan tren penjualan yang positif, yang menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat masih berada dalam kondisi baik.
Melihat seluruh indikator tersebut, Purbaya menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak bisa disamakan dengan krisis 1998 yang pernah mengguncang sistem keuangan nasional.
Ia menilai, fundamental ekonomi saat ini jauh lebih kuat, baik dari sisi fiskal, perbankan, maupun sektor riil.
“Jadi jauh dari kesan bahwa kita sedang menuju krisis 1998 lagi. Kita masih ekspansi ekonominya, mungkin di atas 5,4% atau lebih,” tegasnya.
Pemerintah, kata dia, akan terus memantau perkembangan data ekonomi terbaru untuk memastikan stabilitas tetap terjaga di tengah tantangan global seperti perlambatan ekonomi dunia dan fluktuasi harga komoditas.
Dengan kombinasi defisit yang rendah, pajak yang tumbuh tinggi, serta konsumsi masyarakat yang solid, pemerintah optimistis perekonomian Indonesia tetap berada di jalur pertumbuhan yang sehat sepanjang 2026.
Meski demikian, Purbaya menekankan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan agar momentum positif ini tidak terganggu oleh faktor eksternal.
“Data menunjukkan ekonomi kita masih ekspansi. Ini yang harus kita jaga bersama,” tutupnya.
Dengan berbagai indikator tersebut, pemerintah menegaskan bahwa APBN masih berada dalam kondisi sehat, sekaligus memperkuat keyakinan bahwa Indonesia berada jauh dari risiko krisis ekonomi seperti masa lalu.

