Holopis.com, Jakarta — Siomay murah berbahan ikan sapu-sapu kembali jadi sorotan. Selain berisiko bagi ginjal dan liver, ini ciri-ciri yang wajib masyarakat waspadai.
Siomay murah meriah yang biasa dijajakan di pinggir jalan mendadak jadi sorotan.
Bukan tanpa alasan, jajanan yang selama ini dianggap aman itu diduga bisa dibuat dari ikan sapu-sapu, ikan liar yang hidup di perairan kotor dan berpotensi membawa risiko serius bagi kesehatan.
Seorang pedagang siomay di Jakarta Selatan, Mamat (51, nama samaran), mengakui bahwa sebagian pedagang memang menggunakan ikan sapu-sapu sebagai campuran adonan.
“Kalau pakai ikan sapu-sapu itu biasanya warna adonannya lebih gelap, mirip bakso. Bau amisnya juga lebih kuat,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan ikan tersebut biasanya tidak 100 persen, melainkan dicampur dengan ikan lain agar rasa tidak terlalu berbeda.
“Enggak selalu full. Kadang dicampur juga sama ikan yang biasa dijual di pasar,” katanya.
Alasan utama penggunaan bahan ini, menurut Mamat, adalah faktor harga yang jauh lebih murah.
Dari temuan di lapangan, ada beberapa ciri yang bisa dikenali masyarakat agar lebih waspada:
1. Warna adonan lebih gelap, cenderung abu-abu atau kecoklatan.
2. Aroma lebih amis dan tajam dibanding siomay ikan segar
3. Tekstur cenderung lebih kasar jika dominan ikan sapu-sapu
4. Rasa bisa tertutupi bumbu, tapi masih ada karakter amis khas
Meski begitu, perbedaan ini tidak selalu mudah dikenali jika sudah diolah dengan bumbu kuat.
Risiko Serius
Pakar penyakit dalam dari Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, menegaskan bahwa ikan sapu-sapu yang berasal dari perairan tercemar bisa membawa risiko kesehatan serius.
“Jika ikan itu tercemar bakteri, kuman, dan logam berat, maka akan berisiko bagi kesehatan,” jelasnya.
Ia menambahkan, proses memasak tidak mampu menghilangkan seluruh kontaminasi, terutama logam berat.
“Kadar logam berat tidak bisa hilang dengan proses pemasakan,” tegasnya.
Dalam jangka pendek, konsumsi makanan tercemar bisa menyebabkan mual, muntah, hingga gangguan pencernaan.
Namun dalam jangka panjang, dampaknya jauh lebih berbahaya.
“Bisa menyebabkan kerusakan ginjal maupun liver,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati.
“Ikan hasil tangkapan liar tidak dapat dipastikan aman untuk dikonsumsi dan tidak memenuhi standar keamanan pangan,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa perairan tercemar berpotensi mengandung bakteri berbahaya seperti E. coli serta logam berat yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan manusia.

