HOLOPIS.COM, Jakarta – Suhu di Arab Saudi mencapai 39°C membuat jemaah haji rentan dehidrasi, dokter pun mengingatkan cara minum dan perawatan tubuh yang tepat.
Cuaca panas ekstrem kembali menjadi tantangan serius bagi jemaah haji Indonesia yang tengah menjalankan ibadah di Arab Saudi.
Suhu yang mencapai 39 derajat Celcius di Makkah dan 38 derajat Celcius di Madinah membuat risiko gangguan kesehatan, terutama dehidrasi, meningkat cukup signifikan.
Kondisi ini diungkapkan oleh dr. M. Fathi Banna Al Faruqi, anggota Tusi PKPPJH Sektor 1 Daerah Kerja Bandara.
Ia menyebut, kombinasi suhu tinggi dan udara kering di Tanah Suci bisa berdampak langsung pada kondisi fisik jemaah, bahkan tanpa disadari.
“Suhunya tinggi, dan karena perbedaan suhu ini (udara) lebih panas dan juga kering. Kondisi ini dapat menimbulkan masalah-masalah kesehatan yang dikhawatirkan mengganggu proses ibadah jemaah,” ujar dr. Fathi, Selasa (21/4/2026).
Cuaca panas yang terasa menyengat di siang hari membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan.
Namun, menurut dr. Fathi, banyak jemaah tidak menyadari hal ini karena keringat yang keluar langsung menguap akibat udara yang sangat kering.
Akibatnya, tubuh tetap mengalami pengurangan cairan meski secara kasat mata tidak terlihat banyak berkeringat.
Kondisi ini sering memicu dehidrasi ringan yang kerap diabaikan.
Gejala Awal
Salah satu tanda paling awal yang sering muncul adalah bibir kering dan pecah-pecah.
Meski terlihat sepele, kondisi ini bisa berkembang menjadi lebih serius jika tidak segera ditangani.
Menurut dr. Fathi, bibir yang terlalu kering bisa mengalami luka kecil yang berisiko menjadi pintu masuk bakteri.
Jika sudah terjadi infeksi, kondisi ini dapat memicu sariawan, rasa nyeri, hingga menurunkan nafsu makan jemaah.
“Karena bibirnya perih, akhirnya makan jadi tidak enak dan tidak nyaman. Karena makan tidak nyaman, energinya berkurang, cairannya juga kurang, jadinya makin dehidrasi. Hal sederhana seperti bibir pecah-pecah bisa mengganggu ibadah sehari-hari,” jelasnya.
Dalam situasi ibadah haji yang padat aktivitas, mulai dari berjalan kaki jauh, antre, hingga berada di luar ruangan dalam waktu lama, kondisi tubuh yang kekurangan cairan bisa berdampak lebih cepat dibanding di lingkungan normal.
Jika tidak ditangani dengan baik, dehidrasi bisa berlanjut menjadi pusing, lemas, bahkan gangguan kesadaran ringan yang tentu sangat berbahaya bagi jemaah.
Risiko Dehidrasi
Cuaca panas di Arab Saudi sebenarnya bukan hal baru dalam setiap musim haji.
Namun, kondisi tahun ini disebut memiliki tingkat kekeringan udara yang cukup tinggi, sehingga tubuh lebih cepat kehilangan cairan.
Jemaah sering kali merasa tidak terlalu berkeringat, padahal cairan tubuh terus berkurang secara perlahan. Inilah yang membuat dehidrasi sering terjadi tanpa disadari.
Selain itu, aktivitas ibadah yang cukup padat juga membuat jemaah kurang memperhatikan waktu minum.
Banyak yang menunda minum hingga benar-benar merasa haus, padahal kondisi tersebut justru sudah masuk tahap awal dehidrasi.
Saran Dokter
Untuk mengatasi hal ini, dr. Fathi menekankan pentingnya pola minum yang teratur.
Ia menyarankan jemaah untuk tidak menunggu rasa haus datang sebagai tanda minum, karena itu sudah terlambat.
Sebaliknya, jemaah dianjurkan untuk mengatur asupan cairan secara berkala sepanjang hari.
Salah satu metode sederhana yang ia sarankan adalah minum dalam jumlah kecil namun sering.
“Minumnya adalah dua teguk setiap 10 menit. Kenapa dua teguk setiap 10 menit? Biar cairannya tetap cukup, tapi tidak beser. Kalau minum langsung banyak, nanti malah sering pipis dan mengganggu ibadah,” ungkapnya.
Pola ini dinilai efektif karena membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh tanpa membuat jemaah terlalu sering ke toilet, yang bisa mengganggu kelancaran ibadah di tengah padatnya aktivitas di Tanah Suci.
Selain pola minum, dr. Fathi juga menekankan pentingnya jemaah selalu membawa botol minum ke mana pun mereka pergi.
Baik berisi air putih biasa maupun air Zamzam, keduanya bisa menjadi sumber hidrasi yang baik selama beraktivitas.
Ia mengingatkan agar jemaah tidak hanya minum saat istirahat, tetapi secara rutin sepanjang perjalanan ibadah.
Dengan begitu, tubuh tetap terjaga meski berada di bawah suhu panas ekstrem.
Kesadaran untuk menjaga hidrasi ini dinilai sangat penting, terutama bagi jemaah lanjut usia yang lebih rentan terhadap dampak dehidrasi.
Selain menjaga asupan cairan dari dalam, perawatan dari luar juga tidak boleh diabaikan.
Dr. Fathi menyarankan penggunaan pelembap bibir untuk mencegah bibir kering akibat udara panas dan kering.
Ia menyarankan memilih produk dengan kandungan petroleum jelly karena mampu membentuk lapisan pelindung di bibir sehingga tidak mudah kehilangan kelembapan.
“Dilihat di komposisinya, cari yang ada kandungan petroleum jelly. Itu semacam minyak yang akan melapisi bibir biar tidak mudah kering,” tambahnya.
Imbauan Kesehatan
Petugas kesehatan haji terus mengingatkan bahwa menjaga kondisi tubuh selama di Tanah Suci adalah bagian penting dari kelancaran ibadah.
Cuaca ekstrem tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalkan dengan langkah pencegahan sederhana.
Kedisiplinan dalam minum, istirahat cukup, serta menjaga kondisi fisik menjadi kunci utama agar jemaah tetap sehat selama menjalankan rangkaian ibadah haji.
Dengan suhu yang masih tinggi dan kondisi cuaca yang dinamis, kewaspadaan terhadap dehidrasi menjadi hal yang tidak bisa dianggap remeh.
Pada akhirnya, menjaga tubuh tetap terhidrasi bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kekhusyukan ibadah di Tanah Suci agar tetap berjalan lancar dan nyaman.

